Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Sepenggal Harap di Kampung Halaman

Yanurisa Ananta
20/4/2016 07:15
Sepenggal Harap di Kampung Halaman
(AFP/PHYO HEIN KYAW)

SUDAH 15 tahun Mu Par bekerja di Thailand, terpisah dari sanak saudara. Namun, belum lama ini, perempuan berusia 33 tahun yang merupakan warga asli suku Kayan, kembali ke kampung halamannya di Myanmar. Bersama kawan-kawan dari lima dusun lainnya, mereka membangun toko kecil yang menjual hasil kerajinan tangan, seperti boneka kayu, syal, dan kalung perunggu untuk turis. Setiap turis yang masuk kawasan itu dikenai biaya 5.000 kyat (US$4).

Kepulangan Mu Par bukan tanpa alasan sebab penghasilannya saat ini cukup lumayan ketimbang dia bekerja di negeri tetangga. Seperti kebanyakan perempuan suku Kayan lainnya, Mu Par mengenakan kalung-kalung di lehernya yang panjang. Penampilan mereka yang 'berbeda' ini kerap 'dijual' sebagai objek wisata. Tak jarang wanita-wanita suku Kayan bekerja di Thailand hanya untuk mendapat penghasilan 3.000 baht atau US$90 sebulan. Ironisnya, uang tersebut pun tak sepenuhnya masuk kantong mereka, sebagian besar penghasilan dibagi dengan agen pariwisata setempat.

Oleh karena itu, melihat potensi pariwisata di kampung halamannya, Mu Par berharap wanita-wanita suku Kayan mengikuti jejaknya kembali pulang. "Jika ada lebih banyak turis yang datang, kami berharap perempuan-perempuan suku Kayan di Thailand kembali pulang," katanya seperti dikutip AFP, kemarin.

Dalam tradisi suku Kayan, anak perempuan wajib menggunakan kalung-kalung perunggu sejak berusia 5 tahun. Setiap tahun, kalung ditambah satu hingga membuat leher terlihat panjang. Seorang wanita dewasa bisa menggunakan kalung seberat 5 kilogram.

Kemiskinan dan konflik memaksa perempuan suku Kayan lari ke perbatasan Thailand. Phyoe Wai yar Zar, pejabat pariwisata Myanmar, mengatakan tindakan terhadap perempuan suku Kayan tak ubahnya 'kebun binatang manusia'. "Meminta mereka berpose untuk foto dan memberi uang ialah tindakan seolah-olah mereka ada di kebun binatang manusia. Padahal, (di desa suku Kayan), turis bisa membeli produk asli seperti makanan, kerajinan tangan, dan suvenir untuk menyokong hidup mereka," katanya.

Orang-orang suku Kayan kini berharap banyak pada sektor pariwisata. Buktinya, dengan menjual kerajinan tangan khas desanya, Mu Par bisa menghidupi dan menyekolahkan anak-anaknya. Bukan tidak mungkin manfaat yang sama dirasakan penduduk lainnya. "Di Myanmar, anak-anak saya bisa masuk sekolah dan juga saya senang berada di dekat para kerabat," kata Mu Par.

Saat ini, sejumlah perempuan telah kembali ke area desanya. Mereka telah dibekali rencana kewirausahaan untuk membalikan arah tujuan wisatawan. Diharapkan peralihan kekuasaan dari junta militer ke arah demokratisasi dapat memperbaiki kehidupan dan kesejahteraan mereka. ( yanurisa Ananta/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Zen
Berita Lainnya