Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Perubahan Iklim Bisa Dorong Penyebaran Zika

Hym
20/4/2016 07:05
Perubahan Iklim Bisa Dorong Penyebaran Zika
(AFP)

PARA ahli memperingatkan pemanasan global dapat mempercepat penyebaran virus Zika yang dibawa atau disebarkan nyamuk. Masalah peningkatan suhu membuat ancaman virus yang pertama kali ditemukan di Amerika Latin itu menjadi potensial menyebar dengan cepat.

Peringatan para pakar itu datang menjelang pertemuan utama peneliti Zika di Paris, Prancis, pekan depan.

"Perubahan iklim telah memberikan kontribusi terhadap perluasan daya jangkauan nyamuk," kata Moritz Kraemer, spesialis penyakit menular pada Universitas Oxford, Inggris, seperti dikutip AFP, kemarin.

Kraemer ialah penulis utama dari studi pemetaan 2015 tentang habitat dua spesies nyamuk cuaca hangat, Aedes aegypti dan Aedes albopictus, yang diketahui menginfeksi manusia dengan beberapa jenis virus. Sebaran dua spesies tersebut telah meluas dalam beberapa dekade terakhir.

Sejak 2014, nyamuk Aedes aegypti, yang dikenal sebagai nyamuk penyebar penyakit 'demam kuning' atau demam berdarah, telah menjadi penyebar utama penyakit Zika di Brasil, Kolombia, dan bagian lain dari Amerika Latin.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan virus Zika telah menginfeksi beberapa juta orang di Amerika Latin. Penyakit tersebut menyebabkan bayi lahir dengan kondisi kepala tidak normal atau kecil (mikrosefalia).

Spesies kedua, Aedes albopictus, juga sama ditemukan di sepanjang sabuk tropis dunia, tetapi tidak seperti aegypti yang juga telah 'menduduki' sekitar 20 negara di Eropa Selatan sejak awal 1990-an.

Uji laboratorium telah menunjukkan albopictus 'kompeten' untuk membawa atau menularkan virus Zika dan bisa mendorong penyebaran penyakit itu di daratan Eropa.

"Ancaman yang kita hadapi ialah kita akan melihat virus Zika di Eropa musim panas mendatang," kata Anna-Bella Failloux, ahli virus pada Institut Pasteur, yang akan menjadi koordinator pertemuan 25-26 April di Paris.

Wabah mungkin akan tetap terlokalisasi, kata dia, tetapi ketakutan akan mikrosefalia tetap tampak besar. Di Amerika Serikat bagian selatan, tempat aegypti umum ditemui, ancaman itu bahkan bisa lebih cepat berkembang.

"Sekali lagi, dalam masalah ini, perubahan iklim bisa membuat sesuatu bertambah lebih buruk," ujar para ahli. (AFP/Hym/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Zen
Berita Lainnya