Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

TNI Siap Bebaskan Sandera

Ant/Vr
20/4/2016 07:00
TNI Siap Bebaskan Sandera
(MI/Victor Ratu)

PANGLIMA Tentara Nasional Indonesia (TNI) Jenderal TNI Gatot Nurmantyo mengatakan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) yang saat ini sudah berada di Tarakan, Kalimantan, siap diberangkatkan ke Filipina untuk membebaskan 14 warga negara Indonesia (WNI) yang sedang ditawan kelompok teroris Abu Sayyaf. Namun, katanya, hal itu baru akan dilakukan jika ada permintaan dari pihak militer Filipina.

Menurut panglima, sesuai dengan apa yang telah disampaikan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo bahwa TNI langsung diperintahkan untuk menyiapkan pasukan setelah kapal berbendera Indonesia untuk kedua kalinya kembali dibajak di perairan Filipina.

"Saat ini tentara Filipina masih melakukan operasi. Kalau mereka meminta bantuan kita, dengan puji syukur saya langsung berangkatkan," kata Panglima TNI saat melihat kesiapan pasukan PPRC di Tarakan, Kalimantan, Senin (18/4).

"Saya datang ke sini membawa kepala staf angkatan, komandan pasukan, ada Kopassus, Marinir, Paskas, Brimob, dan lain sebagainya. Untuk mengecek persiapan dan menganalisis serta memberikan petunjuk, apa yang harus dilakukan. Salah satu tempat persiapan ada di sini, tetapi di tempat lain juga ada yang saya siapkan. Untuk itu, saya datang ke sini untuk mengecek semuanya," tambahnya.

Saat ini, Kementerian Luar Negeri Indonesia masih melakukan koordinasi dengan Kementerian Luar Negeri Filipina supaya TNI bisa membantu tentara mereka untuk membebaskan 14 sandera yang ditahan teroris. "Mudah-mudahan saja dalam waktu dekat sudah bisa dilakukan kesepakatan, kita akan melakukan misi kemanusiaan. Itukan sifatnya menolong manusia, siapa yang paling dekat, dia yang akan melakukan," ujarnya.

Tentang pembajakan kapal Indonesia Jumat lalu, menurut panglima belum diketahui siapa pelakunya. "Belum ada rilis resmi dari Filipina apakah itu kelompok Abu Sayyaf atau bukan, tetapi diperkirakan sempalan Abu Sayyaf. Itu pun dilihat dari satu pembajak yang menggunakan bahasa Melayu, sedangkan lainnya menggunakan bahasa Tagalog," ujarnya.

Seperti dikutip Antara, kemarin, Konsulat RI di Tawau Negeri Sabah, Malaysia, hingga kini belum tahu keberadaan empat dari 10 warga negara Indonesia (WNI) anak buah kapal pengangkut batu bara TB Henry/Barge Christy yang disandera kelompok bersenjata Abu Sayyaf. "Kami belum mendapatkan informasi soal kondisi mereka sampai sekarang," kata Konsul RI Tawau di Tawau, Abdul Fatah Zainal. (Ant/VR/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Zen
Berita Lainnya