Kamis 17 Juni 2021, 19:23 WIB

Perang Baru di Myanmar, Puluhan Ribu Orang Kabur ke Hutan

Atikah Ishmah Winahyu | Internasional
Perang Baru di Myanmar, Puluhan Ribu Orang Kabur ke Hutan

AFP
Mengungsi ke hutan

 

BEBERAPA kamp yang tersebar di hutan menampung puluhan orang, beberapa di antaranya bahkan menampung lebih dari seribu. Pengungsi tidur bersama di bawah terpal plastik untuk berlindung dari hujan monsun Myanmar.

Makanan menipis dan ada tanda-tanda penyebaran penyakit, menurut warga yang melarikan diri dari pertempuran baru-baru ini di Negara Bagian Kayah Myanmar timur, satu dari beberapa konflik yang meningkat sejak kudeta 1 Februari menggulingkan pemimpin terpilih Aung San Suu Kyi.

“Beberapa anak menderita diare. Sulit mendapatkan air bersih di sini. Beberapa orang tidak sempat membawa nasi atau makanan,” kata Foung, 26 tahun.

"Kami berdoa," imbuhnya, membagikan foto terpal yang disampirkan di antara batu-batu besar di bawah pohon tempat dia sekarang tidur.

PBB memperkirakan hampir 110.000 orang telah mengungsi di Negara Bagian Kayah Myanmar akibat kekerasan baru-baru ini.

Dengan pertempuran baru di Myanmar utara dan barat, hampir 200.000 orang telah meninggalkan rumah di tempat lain sejak kudeta, sejauh ini merupakan gerakan massa terbesar sejak eksodus 700.000 Muslim Rohingya pada 2017 dalam menghadapi serangan tentara.

Junta telah mencap lawan-lawannya sebagai teroris, termasuk Pasukan Pertahanan Rakyat seperti Pasukan Pertahanan Nasional Karenni yang baru dibentuk dan telah berperang di wilayah itu sejak bulan lalu.

Baca juga : Korea Utara Gulirkan Bantuan US$300 Ribu untuk Myanmar

Meskipun kelompok itu mengatakan akan menghentikan serangan pada Selasa (15/6) setelah seruan dari masyarakat, banyak dari mereka yang berlindung di hutan menunjukkan sedikit tanda kesiapan untuk mengambil risiko kembali ke rumah mereka.

"Beberapa orang dari desa-desa terpencil pulang ke rumah untuk mengambil karung beras dan barang-barang selama masa gencatan senjata, tetapi kebanyakan tidak berani tinggal," kata John Canaydy, dari sebuah desa dekat kota Demoso.

"Tinggal di kamp lebih aman daripada tinggal di rumah kami sendiri," imbuh Canaydy, yang termasuk dalam daftar buronan junta karena ikut serta dalam protes anti-militer.

Dalam sebuah buletin pada hari Selasa, Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan mengatakan upaya bantuan oleh kelompok nasional dan internasional guna melengkapi pekerjaan masyarakat lokal belum cukup untuk memenuhi semua kebutuhan.

"Upaya telah bertemu dengan tantangan akses karena ketidakamanan dan hambatan," katanya.

Beberapa orang terlantar telah mencoba menyelinap ke kota-kota dan desa-desa yang sepi di bawah naungan kegelapan untuk mencoba mendapatkan makanan untuk dibawa kembali ke hutan.

“Setidaknya tiga sukarelawan telah dibunuh oleh pasukan junta ketika mereka mencoba membawa bantuan,” kata direktur Kelompok Hak Asasi Manusia Karenni, Banya Khung Aung.

"Sepertiga dari populasi sekarang berada di hutan.”

"Pengabaian bisa memakan banyak nyawa,” pungkasnya. (Straitstimes/OL-2)

 

Baca Juga

AFP/Kenzo TRIBOUILLARD

Salman Rushdie, Penulis The Satanic Verses Ditikam

👤Widhoroso 🕔Jumat 12 Agustus 2022, 23:03 WIB
PENULIS asal Inggris, Salman Rushdie dilaporkan menjadi korban penikaman saat dirinya berbicara di sebuah acara di Chautauqua County, New...
AFP/Jalaa Marey.

Penembakan Israel Lukai Dua Orang Dekat Dataran Tinggi Golan

👤Mediaindonesia.com 🕔Jumat 12 Agustus 2022, 22:40 WIB
Penembakan tentara Israel melukai dua warga sipil di provinsi Quneitra, Suriah selatan, dekat Dataran Tinggi Golan yang diduduki pada Jumat...
ANTARA

Tiongkok Minta Rusia dan Ukraina Lanjutkan Negosiasi

👤Mediaindonesia.com 🕔Jumat 12 Agustus 2022, 21:02 WIB
Duta Besar Tiongkok untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Zhang Jun menyerukan kepada kedua pihak untuk segera mencari solusi atas krisis...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya