Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMBICARAAN damai di Yaman mulai dibuka kembali di Kuwait.
Utusan PBB, Ismail Ould Cheikh Ahmed, telah tiba di Kuwait, Minggu (17/4) waktu setempat.
Namun, delegasi kelompok pemberontak menunda keberangkatan mereka.
Ahmed mengakui saat ini masih banyak ketegangan antara kelompok yang bertikai.
"Jalan untuk perdamaian mungkin sulit, tapi itu bisa diterapkan," katanya, kemarin.
Namun, dia mengingatkan bahwa pelanggaran terhadap gencatan senjata sejak 11 April sangat berpotensi mengancam keberhasilan pembicaraan damai.
Kata dia, gencatan senjata sering kali dilanggar dengan munculnya pertempuran di Nahm, sebelah timur laut Sana'a yang dikuasai pemberontak dan menewaskan sembilan tentara propemerintah.
PBB mencatat, sampai saat ini konflik di Yaman telah menewaskan lebih dari 6.400 orang dan menyebabkan 2,8 juta orang mengungsi.
Di antara masalah yang akan ditangani di Kuwait ialah pengaturan keamanan, penarikan pasukan milisi dan kelompok bersenjata, penyerahan senjata berat, serta merilis tahanan.
Para pemberontak kelompok Houthi yang didukung Iran telah bersekutu dengan pasukan elite yang setia kepada mantan Presiden Ali Abdullah Saleh.
Menteri Luar Negeri Yaman, Abdulmalek al-Mikhlafi mendesak Houthi untuk menyerahkan senjata mereka.
"Kami akan melakukan semua yang kami bisa untuk meringankan penderitaan rakyat," kata Mikhlafi, dalam sambutannya yang dipublikasikan pada akhir pekan ini.
Ia menambahkan bahwa pihaknya memang tidak mengharapkan kesepakatan penuh pada tahap ini, tapi perundingan merupakan sebuah langkah maju.
"Apa yang dilakukan di Kuwait kita harapkan baik walaupun sulit," kata April Longley Alley dari International Crisis Group.
"Dalam skenario kesepakatan damai ini, kedua belah pihak akan setuju untuk paket kompromi yang akan membangun kepercayaan, memperkuat gencatan senjata, memungkinkan pemerintah yang inklusif untuk kembali ke Sana'a, dan memulai kembali proses politik."
Konflik Yaman yang telah menjadi pertaruhan antara kelompok Houthi yang didukung Iran dan pemerintahan Presiden Abd Rabbu Mansour Hadi yang disokong Saudi, diakui telah meningkatkan ketegangan di wilayah Timur Tengah.
Saudi dan sekutu Islam Sunni yang mendukung pemerintah dan pihak Syiah Iran yang mendukung para pemberontak, telah memperkeruh konflik tersebut.
Tidak hadir
Perundingan di Kuwait sejatinya bertujuan mendamaikan konflik ini.
"Namun, sampai saat ini kami belum memiliki informasi, kecuali bahwa delegasi kelompok (pemberontak) Houthi terlambat," kata sebuah sumber.
"Mereka tidak meninggalkan Sana'a dan menunda-nunda keberangkatan," kata sumber itu lagi.
Dari informasi yang diperoleh, ketidakhadiran mereka di Kuwait karena terjadi serangan dari pihak Saudi di Yaman.
"Mereka tidak datang ke pembicaraan damai di Kuwait karena agresi Saudi terus berjalan di Yaman," kata sumber yang meminta tidak disebutkan namanya itu.
"Arab Saudi tidak berkomitmen untuk melakukan gencatan senjata."
Sementara itu, PBB telah mengingatkan kedua kubu yang bertikai akan berpengaruh pada pertumbuhan Al-Qaeda di Yaman yang kemungkinan bakal meningkatkan ketegangan. (AFP/I-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved