Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Antara Histeria dan Air Mata Duka

Hym
19/4/2016 02:15
Antara Histeria dan Air Mata Duka
(AFP / ANDRESSA ANHOLETE)

RIBUAN warga Brasil yang terbagi dalam dua kubu menyemut di luar kompleks Gedung Kongres, kemarin.

Mereka berperilaku tak ubahnya fan tim sepak bola yang tengah menonton pertandingan final.

Hasil pemakzulan yang ditunggu pun muncul.

Sebagian besar anggota majelis rendah setuju Presiden Dilma Rousseff dilengserkan.

Seketika itu, kelompok masyarakat yang menyetujui pemakzulan bersorak dan berpelukan.

Tak lama kemudian, sinar kembang api melesat ke udara.

Letusan kembang api tersebut terdengar bersamaan teriakan "Ciao dear!" (Selamat tinggal sayang!)

Janda Ribeiro, 54, seorang perempuan pengangguran, rela melakukan perjalanan dari Sao Paulo menuju Kota Brasilia.

Ketika Rousseff dinyatakan lengser, Ribeiro yang mengenakan pakaian kuning dan hijau simbol warna bendera nasional itu meneteskan air mata sebagai ungkapan kebahagiaan.

"Kami berjuang begitu keras untuk mewujudkan ini (pelengseran Rousseff), agar negara kita terbebas dari para penjahat yang telah merampok begitu banyak dari kita," ujar seorang propelengseran yang tak mau disebut namanya.

Dari kubu yang berseberangan, tangis dan duka mewarnai saat idola mereka, Rousseff, harus melepaskan jabatan presiden.

Karena tidak terima hasil proses pemakzulan, mereka pun mengecam anggota majelis rendah.

Mariana Santos, 23, tidak tahan membendung air matanya.

Ia mengaku sangat kecewa terhadap hasil akhir proses pemakzulan.

Ia pun menyebut pelengseran Rousseff sebagai noktah hitam bagi demokrasi.

"Ini merupakan aib bagi negara kita. Ini kudeta," kata Mariana, mahasiswa sebuah universitas. Ia pun sepakat dengan pernyataan Rousseff yang menuding proses pemakzulan sama dengan bentuk pemberontakan.

Massa yang berkerumun di luar Gedung Kongres di Kota Brasilia mencapai puluhan ribu orang.

Ribuan orang dari dua kubu juga mengadakan aksi unjuk rasa di Kota Sao Paulo, Rio de Janeiro, dan kota-kota lainnya di antero 'Negeri Samba'.

Suasana Brasilia telah menguarkan aroma persaingan dan perpecahan akibat krisis politik dan ekonomi nasional.

Padahal, empat bulan lagi, Rio de Janeiro menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Panas.

"Apa yang kita lihat hari ini memalukan," kata Elinete Perreira, 35, seorang sejarawan.

Ia meninggalkan lokasi dekat Gedung Kongres karena khawatir terjadi kekerasan pascapemakzulan.(AFP/Hym/I-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Zen
Berita Lainnya