Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Saudi Luncurkan Penerbangan Murah

Ths
19/4/2016 01:45
Saudi Luncurkan Penerbangan Murah
(AFP / PEDRO ARMESTRE)

PERUSAHAAN penerbangan milik pemerintah Arab Saudi, Saudi Arabian Airlines, berencana meluncurkan penerbangan murah tahun depan.

Rencana tersebut bersamaan dengan rencana restrukturisasi ekonomi yang diupayakan pemerintah terhadap ketergantungan ekonomi negara pada minyak.

Dikenal dengan sebutan 'flyadeal', penerbangan dengan harga murah ini akan mulai beroperasi pertengahan tahun depan, seperti diungkap pemimpin utama Saudi Arabian Airlines, Saleh al-Jasser.

Namun, belum ada keterangan lebih lanjut terkait dengan pendanaan dan sisi administratif langkah yang diambil ini.

Juga belum disampaikan apakah 'flydeal' ini akan melayani rute penerbangan domestik atau internasional, atau kedua-duanya.

Arab Saudi, negara dengan tingkat ekonomi tertinggi di jazirah Arab, sebelumnya telah mengoperasikan penerbangan murah dengan nama Flynas dan melayani rute domestik maupun internasional.

Jasser mengatakan kebijakan maskapai ini akan menjadi strategi tambahan dalam rangka program Transformasi Nasional.

Arab Saudi telah mencanangkan rencana jangka panjang untuk mengembangkan ekonomi mereka.

Program Transformasi Nasional sebagai bagian kunci dari rencana ini akan diluncurkan dalam minggu-minggu ini.

Jatuhnya harga minyak dunia selama dua tahun terakhir telah mengintensifkan upaya eksportir minyak terbesar dunia itu untuk mencari alternatif sebagai sumber pendapatan.

Untuk diketahui bahwa harga minyak kini telah jatuh lebih dari setengah, yaitu dari US$100 per barel pada awal 2014 menjadi sekitar US$40 tahun ini.

Selain itu, harga minyak mentah juga masih berada dalam tren pelemahan menyusul gagal tercapainya kesepakatan pertemuan Organisasi Negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC) mengenai pembatasan produksi minyak mentah.

Harga minyak mentah jenis WTI Crude pada Senin (18/4) berada di level US$38,42 per barel, turun 4,81%. Sementara minyak mentah jenis Brent Crude di posisi US$41,13 per barel, melemah 4,13%.

Dengan proyeksi defisit US$87 miliar pada tahun ini, pemerintah Arab Saudi berupaya menggenjot harga minyak hingga 80% pada Desember nanti dan memotong subsidi listrik, air, dan pelayanan umum lainnya.

Selain itu, mereka akan menunda sejumlah proyek utama, mendongkrak pajak, dan melakukan privatisasi sejumlah perusahaan.(AFP/Ths/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Zen
Berita Lainnya