Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
MANUSIA yang kelaparan bisa 'memangsa' sesamanya.
Sejak zaman suku-suku kuno, persoalan logistik kerap memantik perseteruan.
Bahkan, perang sipil di Suriah yang berlangsung sejak 2011 dan menewaskan sekitar 200 ribu orang itu juga diyakini lantaran persoalan logistik ini.
Pemanasan global yang menyebabkan kekeringan diduga sebagai salah satu pemicunya.
Pangeran Charles sewaktu menghadiri konferensi perubahan iklim di Paris, Prancis, tahun lalu, termasuk salah seorang yang meyakini hal tersebut.
"Ada bukti yang sangat bagus bahwa penyebab utama perang Suriah, lucunya, ialah pemanasan (global) yang berlangsung selama hampir 5-6 tahun," katanya dalam wawancara sebelum konferensi iklim di Paris, kala itu.
Namun, pendapat yang disetujui banyak delegasi pada konferensi itu tidak terbukti dan dianggap tidak memiliki dasar oleh sejumlah ilmuwan.
Dalam situs Bishop Hill, Andrew Monford menunjukkan grafis dan bagan resmi yang memperlihatkan lima dari 25 stasiun cuaca di sekitar area Hilal Subur (Fertile Crescent) menampakkan tren pemanasan kecil sekitar 2008, salah satunya Suriah.
Meskipun penghasilan gandum Suriah menurun hingga empat kali lipat sejak 1990, itu hanya berlangsung selama setahun sebelum akhirnya pulih kembali.
Penelitian terbaru oleh Roger Andrews, pakar geologi dan geofisika asal Inggris tentang isu energi, menunjukkan pemanasan singkat di akhir 2000 bukan hal yang luar biasa.
Ada banyak kasus kekeringan dan pemanasan yang lebih parah pada 1950.
Menurutnya, penyebab utama migrasi warga Suriah disebabkan harga solar yang naik hampir tiga kali lipat di masa pemerintahan Presiden Bashar al-Assad.
Itu menyentak petani yang mengandalkan irigasi pompa.
"Klaim bahwa perang sipil Suriah atau munculnya Islamic State (IS), dari sudut pandang mana pun disebabkan perubahan iklim, tidak memiliki dasar," kata Andrews dalam penelitiannya.
Uniknya, pernyataan bahwa pemanasan global menyebabkan perang di Suriah juga diamini militer Amerika Serikat (AS).
Pemanasan global disebut sebagai 'pengganda ancaman' yang menciptakan ketidakstabilan di beberapa area di dunia.
Keyakinan itu diperkuat penelitian National Academy of Sciences yang mengatakan tren perubahan iklim berdasarkan simulasi komputer cocok dengan respons masyarakat Suriah terhadap emisi gas rumah kaca.
Setidaknya, ada dua faktor penyebab perubahan iklim, yakni menurunnya angin yang membawa kelembapan udara dari kawasan mediterania dan temperatur panas sehingga menyebabkan lebih banyak penguapan.
Peneliti utama kajian itu, Colin P Kelley, menyebut pemanasan tersebut terjadi dua hingga tiga kali lipat dari sebelumnya.
Pengajar di University of California, AS, itu meyakini tidak ada penyebab alamiah tren perubahan iklim saat efeknya terhadap manusia terasa sangat besar.
Thomas Bernauer, profesor ilmu politik Swiss Federal Institute of Technology, Swiss, meragukan hal itu.
"Pembuktian bahwa pemanasan berkontribusi terhadap perang sipil di Suriah sangat spekulatif dan tidak didukung dengan bukti ilmiah yang kuat," pungkasnya.
Direktur Center for Climate and Security, Francesca Femia, menyebut penelitian itu dibentuk berdasarkan penelitian sebelumnya yang melihat pengaruh pemanasan iklim pada pertanian dan kehidupan pastoral.
"Pemanasan iklim tidak memiliki peran dalam perpindahan orang dalam jumlah banyak," katanya.
Namun, Mark A Cane, penulis kajian itu sekaligus peneliti di Lamont-Doherty, membela karyanya.
"Saya rasa ada kasus yang menarik di sini. Namun, saya pikir kami telah mencoba menjelaskan bahwa hubungan dari perubahan iklim yang luar biasa dengan sebuah konflik sangat kompleks dan melibatkan faktor lainnya," papar Cane.
Sejumlah peneliti meyakini ada banyak faktor yang menyebabkan perang di Suriah, termasuk bermigrasinya 1,5 juta migran dari Irak sehingga tidak mungkin menyimpulkan hanya dari satu kejadian seperti pemanasan global.
Perdebatan mengenai hal itu telah berlangsung bertahun-tahun.
Kelompok kerja Intergovernmental Panel on Climate Change 2014 sepakat bahwa ada perhatian yang sama di antara anggota bahwa perubahan iklim meningkatkan risiko konflik bersenjata.
Namun, tidak jelas seberapa kuat efek tersebut terhadap konflik Suriah. (The Telegraph/New York Times/Aya/I-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved