Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
SEKITAR pertengahan April lalu, pemerintah Malaysia meliburkan lebih dari 250 sekolah dasar di negeri itu.
Pertimbangannya ialah cuaca cukup menyengat yang melanda negeri itu.
Cuaca ekstrem yang terjadi sejak Januari itu juga menyebabkan kekeringan, termasuk di Vietnam dan Thailand.
Di Negara Bagian Perlis dan Pahang, Malaysia, otoritas setempat menutup sementara kegiatan belajar-mengajar setelah suhu meningkat di atas 37 derajat celsius (98,6 derajat fahrenheit) dalam tiga hari terakhir di pertengahan April lalu.
Kementerian Pendidikan Malaysia mengatakan keputusan itu dibuat untuk melindungi kesehatan sekitar 100 ribu siswa.
Dampak cuaca panas itu juga terasa pada sektor pertanian yang menyebabkan produksi sayuran melambat sehingga memicu kenaikan harga komoditas tersebut di pasaran.
Tak hanya itu, sawah dan perkebunan juga terkena dampak dari kenaikan suhu udara yang ekstrem ini.
Kondisi serupa juga dialami Vietnam.
Kekeringan yang melanda negeri itu bahkan merupakan yang terburuk dalam satu abad terakhir.
"Ketinggian air Sungai Mekong turun ke level terendah sejak 1926, yang mengarah ke kekeringan terburuk dan berdampak pada penggaraman di sana," kata pejabat di lingkungan kementerian pertanian Vietnam, Nguyen Van Tinh, belum lama ini.
Bagi Vietnam, wilayah Mekong yang dihuni sekitar 20 juta orang tersebut merupakan lumbung beras sehingga kekeringan ini sangat mengancam pasokan beras dan membuat nasib jutaan petani tidak menentu.
Kekeringan air juga telah menghambat pertanian di negara tetangga seperti Kamboja, Laos, Thailand, dan Myanmar.
Le Anh Tuan, profesor perubahan iklim di University of Can Tho di pusat kota Mekong, mengatakan sebanyak 40%-50% dari 2,2 juta hektare (5,4 juta are) lahan pertanian terancam hancur akibat kekeringan ini.
Pemerintah merespons situasi ini dengan memberikan bantuan US$3,8 juta kepada daerah yang terkena dampak.
Vietnam dikenal sebagai eksportir beras terbesar kedua di dunia setelah Thailand.
Efek berantai bencana kekeringan juga melanda Filipina.
Dilaporkan, dua orang tewas di wilayah selatan negeri itu setelah terjadi bentrok antara polisi dan ribuan petani yang protes karena sawah mereka kering.
Salah satu wilayah miskin di Filipina, yaitu Kidapawan, ibu kota Provinsi Cotabato, terkena dampak kekeringan paling parah di dunia.
Dalam aksi itu, sekitar 6.000 petani menuntut 15 ribu karung beras dari pemerintah.
"Kami meminta beras. Sebaliknya, mereka memberi kami peluru," kata pemimpin demonstran Norma Capuyan.
Menurut statistik badan antariksa Amerika Serikat, suhu pada Maret lalu memang yang terpanas sepanjang abad ini.
Suhu di dunia pada bulan itu naik 1,28 derajat celcius atau lebih panas daripada suhu rata-rata global di abad sebelumnya.
Ini merupakan ke-11 kalinya suhu global terus naik dari bulan-bulan sebelumnya. Menurut para pakar, hal itu lebih disebabkan faktor perubahan iklim daripada El Nino.
Profesor Michael Mann, ilmuwan iklim dari Penn State University Amerika Serikat, menyatakan keterkejutannya.
"Data ini mengingatkan kita untuk serius mengurangi emisi karbon secara global," ujarnya, seperti dikutip The Guardian, akhir pekan lalu.
Para ilmuwan menemukan es di Greenland mencair tiga bulan lebih cepat daripada biasanya gara-gara perubahan iklim.
Pada Senin (11/4) dan Selasa (12/4), misalnya, sekitar 12% es di area permukaan Greenland atau sekitar 1,7 juta km persegi menunjukkan tanda mencair.
Hemat air
Ilmuwan iklim di Danish Meteorological Institute Peter Langen mengatakan, meski mencairnya es merupakan bagian alami dari siklus cuaca, fenomena kali ini menunjukkan perubahan iklim membuatnya lebih ekstrem.
Departemen Sumber Daya Air California Amerika Serikat memprediksi seperempat salju di pegunungan Sierra Nevada yang menjadi sumber air bagi sungai dan air tanah bagi wilayah tersebut akan habis pada 2050 akibat perubahan iklim ini.
Ancaman yang sangat mengkhawatirkan lagi ialah suhu yang meningkat menyebabkan evaporasi (penguapan cepat) tanah juga meningkat.
California yang merupakan wilayah dengan tingkat kepadatan tinggi di AS tidak siap untuk perubahan iklim esktrem seperti ini.
Karena itu, Gubernur California Jerry Brown mewajibkan penghematan air hingga 25% yang mulai diberlakukan sejak tahun lalu.
Petani, yang mengonsumsi sekitar 40% air di California, juga mulai berinvestasi dalam sistem mikroirigasi dalam rangka konservasi air.
Venezuela di Amerika Latin juga tengah berjibaku dengan bencana kekeringan.
Bahkan tak hanya kekeringan, krisis listrik juga tengah mengancam negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia itu.
Presiden Nicolas Maduro dalam pidato di televisi pemerintah mengatakan negara itu dalam kesulitan karena tingkat air rendah di 18 bendungan hidroelektrik.
Maduro juga memerintahkan industri yang dikelola negara untuk mengurangi konsumsi listrik sebesar 20%.(AFP/AP/I-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved