Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
SITUASI politik tengah memanas di wilayah seantero Brasil. Polarisasi masyarakat ‘Negeri Samba’ pun kian kentara. Sekelompok masyarakat mendukung Presiden Dilma Rousseff dilengserkan dari jabatannya sebagai presiden.
Kelompok masyarakat lain yang mendukung Rousseff menolak keras atas gagasan yang diusung kalangan oposisi. Mereka menilai upaya pemakzulan sebagai bentuk kudeta terhadap pemerintah sah yang dipimpin Rousseff.
Seiring perjalanan waktu, semakin dekat dengan proses pemakzulan yang digelar majelis rendah kongres, situasi pun kian genting. Di depan gedung kongres, aparat polisi telah membuat barikade berupa tembok baja setinggi 2 meter. Tembok itu memanjang sejauh lebih dari 500 meter.
Tembok barikade itu diba-ngun untuk memisahkan dua kubu yang bersimpangan, pro-Roussef dan anti-Rousseff. Tembok pemisah itu untuk mencegah agar tidak terjadi baku hantam dan saling serang antarkubu yang berbeda kepentingan tersebut.
Ikatan persaudaraan dan persatuan di wilayah Brasil tengah goyah. Situasi tersebut telah pula merembet ke media sosial Facebook. Pertemanan di Facebook telah menjadi ajang saling kecam karena beda dukungan.
“Saya sudah kehilangan banyak teman karena pendapat saya tentang Dilma,” kata Carlos Conrado, 30, editor sebuah surat kabar. Ia bersama rekan-rekannya yang proimpeachment terus menyuarakan agar Rousseff dilengserkan.
Namun, akibat pendapatnya, Conrado mengaku sekitar 15 orang temannya telah menghapus pertemanan di Facebook-nya. Bukan hanya temannya, bahkan pamannya pun tidak mau lagi bersapa dan berbincang dengan Conrado.
Dari kubu pro-Rousseff, Jose Carlos Lemos, seorang guru olahraga, mengalami nasib serupa. Sebanyak 10 temannya tidak lagi menjadi sahabatnya dan memutuskan hubungan pertemanan. “Mereka tidak setuju dengan komentar saya,” ucap Lemos. “Saya datang untuk memprotes dan mendukung demokrasi yang benar,” tambahnya.
Zaqueu Oliveira Mota, 33, penjaga keamanan, mengatakan, “Kami membutuhkan pembersihan total,” ujarnya. (AFP/Ths/I-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved