Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Rousseff Berharap Lolos dari Pemakzulan

Thomas Harming Suwarta
18/4/2016 01:00
Rousseff Berharap Lolos dari Pemakzulan
(AFP)

MAJELIS rendah kongres ‘Negeri Samba’ mulai mempersiapkan proses pemungutan suara dalam rangka pemakzulan atau impeachment terhadap Presiden Brasil Dilma Rousseff yang siap digelar Senin (18/4) waktu setempat atau hari ini waktu Indonesia.

Jelang penentuan nasib Rousseff, pengamanan mulai diperketat dengan mengerahkan aparat kepolisian di seluruh kota besar. Hal itu dilakukan demi mengantisipasi ancaman keamanan dan bentroknya kubu pendukung Rousseff dan kubu penentangnya.

Sehari jelang pemungutan pemakzulan yang hanya tersisa 11 jam, Rousseff bersama politisi pendukungnya terus melakukan lobi. Ia berharap bisa lolos dari pemakzulan.

Dalam pemungutan suara, kelompok oposisi membutuhkan minimal 342 suara dari total 513 kursi di majelis rendah. Sebaliknya, jika tidak mendapat suara minimal, Rousseff akan tetap menjabat presiden.

Dari hasil perkiraan sementara, kubu proimpeachment telah mengumpulkan cukup dukungan pada Sabtu (16/4) waktu setempat. Mereka kemungkinan akan mendapat dukungan 347 suara. Sebaliknya, pendukung Rousseff optimistis hasil jajak pendapat itu akan berubah.

Diperkirakan, selama proses pemungutan suara, sebanyak 300 ribu demonstran akan turun ke jalan di luar gedung kongres. Jika Rousseff dapat dimakzulkan, selanjutnya senat akan memulai sidang Mei mendatang.

Jabatan presiden akan dipegang Michel Temer yang sekarang menjabat wakil presiden. Kongres akan melantik Temer yang menjadi ketua Partai Gerakan Demokrasi Brasil (BDMP) menjadi pengganti Rousseff.


Sebuah kudeta

Tidak semua masyarakat Brasil sepakat dan setuju terhadap langkah pemakzulan terhadap Rousseff. “Kami di sini untuk membela demokrasi,” kata Lucy Lopes, seorang profesor sejarah yang pro-Rousseff.

Bagi para pendukung Rousseff, proses pemungutan suara pemakzukan terhadap dirinya ini merupakan sebuah kudeta. Sebelumnya, ribuan pendukung Rousseff turun ke jalan di beberapa kota sebagai bentuk protes pemakzulan. “Mereka ingin menghukum seorang wanita yang tidak bersalah,” kata Rousseff yang menanggapi upaya kelompok oposisi yang mengusulkan pemakzulan.

“Apa legitimasi mereka (kelompok oposisi)?” ucap perempuan yang pernah mengalami siksaan di bawah rezim diktaktor militer Brasil pada kurun 1964-1985 itu.

Namun, bagi lawan politiknya, Rousseff dan pendahulunya, Luiz Ignacio Lula da Silva yang telah memimpin lebih dari satu dekade, telah melakukan praktik yang salah dalam menjalankan pemerintah. Akibatnya, perekonomian Brasil mengalami kemerosotan. (AFP/I-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Zen
Berita Lainnya