Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Jalan Terjal Menuju Perdamaian

Aya
13/4/2016 07:00
Jalan Terjal Menuju Perdamaian
(AFP)

TANPA gencatan senjata, mustahil perdamaian terwujud di Yaman. Pihak-pihak yang bertikai, yakni pasukan loyalis Presiden Abedrabbo Mansour Hadi dan pemberontak Syiah Houthi, serta koalisi pimpinan Arab Saudi yang melakukan intervensi perang sipil di Yaman, berkomitmen menghormati gencatan senjata yang dikeluarkan PBB. Meski sejumlah pelanggaran terjadi, perundingan damai tetap akan berlangsung di Kuwait 18 April mendatang.

Utusan khusus PBB untuk Yaman, Ismail Ould Cheikh, menyebut gencatan senjata merupakan landasan pertama bagi Yaman untuk meraih perdamaian.

"Hal ini kritis, mendesak, dan sangat dibutuhkan. Yaman tidak bisa lagi menanggung hilangnya nyawa," kata Ahmed, kemarin.

Jenderal Mohamed Ali al-Makdashi, kepala staf pasukan pemerintahan Presiden Abedrabbo Mansour Hadi menyatakan, meski sejumlah kekerasan dilakukan pemberontak, gencatan senjata tetap berlaku.

"Gencatan senjata tidak runtuh dan kami berharap para pemberontak mengakhiri serangan mereka dan menghormati gencatan senjata," katanya. Ia menuduh pelanggaran di Kota Taez di barat daya dan Sana'a sebelah timur, dilakukan pemberontak.

Loyalis menuding kelompok Syiah Houthi melakukan 25 pelanggaran di Taez, yakni satu warga sipil tewas dalam pengeboman oleh pemberontak. Sebaliknya, kubu pemberontak menyatakan setidaknya ada satu serangan udara koalisi di Taez dan menyebut tentara pemerintah melakukan 33 pelanggaran gencatan senjata di utara, timur, dan selatan Sanaa.

Seorang fotografer AFP melaporkan dari Sana'a, sejak Minggu (10/4) kota itu tidak pernah menjadi target serangan pesawat perang koalisi.

Upaya sebelumnya untuk menghentikan pertempuran Yaman hancur akibat sikap pemerintah dan pemberontak yang saling tuduh tersebut. Tensi di Timur Tengah kian memanas seiring dengan intervensi Arab Saudi setahun lalu. Kelompok ekstremis Al-Qaeda di Semenanjung Peninsula (AQAP) juga ikut memanaskan konflik ini untuk memperluas kekuasaan di selatan Yaman. Namun, tekanan diberlakukannya gencatan senjata menjadi harapan untuk tercapainya kesepakatan perdamaian jangka panjang yang bisa dihasilkan dari pertemuan 18 April nanti di Kuwait.

April Longley Alley, pengamat spesialis Yaman di International Crisis Group mengakui, gencatan senjata merupakan cara paling menjanjikan untuk mengakhiri konflik. Namun, lanjutnya, proses perdamaian akan panjang dan sulit.

"Kalau pun pertarungan besar berakhir, perjalanan perdamaian di Yaman akan panjang dan sulit. Konflik internal sepertinya masih akan berlanjut untuk beberapa waktu," kata Alley. Sementara itu, juru bicara koalisi Brigjen Ahmed Assiri mengatakan diperlukan kesa-baran untuk menyelesaikan hal ini. "Dari hari ke hari, ini akan lebih baik," ujarnya penuh keyakinan. (AFP/Aya/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Zen
Berita Lainnya