Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Waspada Tinggal di Wilayah Rentan Bencana

Haufan Hasyim Salengke
12/4/2016 07:00
Waspada Tinggal di Wilayah Rentan Bencana
(Grafis MI/Ebet)

GEMPA berkekuatan 6,6 Skala Richter (SR) mengguncang timur laut Afghanistan, Minggu (10/4).

Gempa yang cukup kuat itu dapat dirasakan hingga ke India dan Pakistan meski tidak banyak menimbulkan korban jiwa, yaitu satu orang tewas, puluhan bangunan dilaporkan roboh, dan jalur transportasi terganggu.

Itu merupakan gempa kuat kedua yang melanda kawasan Asia Selatan dalam waktu tidak sampai setahun.

Pada akhir Oktober tahun lalu, gempa berkekuatan 7,5 SR mengguncang Pakistan dan Afghanistan serta menewaskan sedikitnya 400 orang dan merobohkan sejumlah bangunan.

Kala itu pusat gempa juga berada di Pegunungan Hindu Kush yang merupakan bagian lempeng Eurasia.

Menurut Badan Survei Geologi AS (USGS), daerah itu merupakan kawasan yang paling rawan gempa bumi di dunia.

Di lempeng itu juga pernah terjadi gempa besar, Nepal pada April dan Mei tahun lalu, yang menewaskan ratusan orang dan membuat sebagian dinding Pegunungan Everest longsor.

Asia Selatan dan wilayah-wilayah Asia lainnya secara keseluruhan merupakan wilayah rawan bencana.

Data penelitian global yang dihimpun dan dirilis lembaga manajemen risiko Verisk Maplecroft, Rabu (20/3), menunjukkan negara dan kota-kota besar di Asia sangat berpotensi terkena dampak berbagai bencana alam, mulai siklon hingga gempa.

Kawasan bencana itu dikenal sebagai ring of fire, termasuk Indonesia.

Hasil survei yang dilakukan terhadap 198 negara oleh lembaga yang berbasis di Inggris itu mengungkapkan 10 negara 'penyumbang' korban bencana alam terbanyak di dunia ialah India (peringkat pertama), Tiongkok, Bangladesh, Indonesia, Filipina, Amerika Serikat, Jepang, Nigeria, Brasil, dan Pakistan.

Secara keseluruhan, tim peneliti mengatakan hampir 1,4 miliar orang di Asia Selatan--India, Bangladesh, Pakistan--atau 81% populasi di kawasan itu, terkena setidaknya satu bencana alam besar, terutama banjir, badai, dan gempa.

Dari jumlah itu, sebanyak 113 juta korban berada di 'Negeri Hindustan', India.

Khusus Bangladesh, 100% penduduk negara itu terkena dampak bencana, sedangkan India 82% dan Pakistan 70%.

Potensi jumlah korban dari bencana itu diperkirakan tak sedikit.

Hal itu disebabkan bangunan di negara-negara tersebut umumnya berkonstruksi buruk.

Peringkat kota

Untuk level kota, menurut penelitian Verisk Maplecroft, Manila di Filipina ialah kota yang paling terkena dampak bencana di seluruh dunia.

Para peneliti menyebut sekitar 23 juta penduduk negeri itu tinggal di jalur topan.

Banyak juga penduduk kota itu yang menghadapi risiko tsunami atau gempa bumi.

Setelah Manila, penduduk di tujuh kota besar Asia lainnya berisiko menghadapi bencana, yaitu secara berturut-turut sesuai dengan peringkat ialah Tokyo (Jepang), Jakarta (Indonesia), Dongguan (Tiongkok), Dahaka (Bangladesh), dan Kalkuta (India).

Namun, menurut studi itu, kemajuan pembangunan yang diraih negara-negara Asia, seperti Bangladesh, Pakistan, India, dan Filipina, membuat mereka bisa mengambil banyak langkah untuk mengurangi risiko bencana.

Di sisi lain, beberapa negara yang paling rentan terkena dampak bencana itu telah menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang kuat.

Namun, sistem infrastruktur dan kesejahteraan yang bisa melindungi masyarakat masih lemah.

Di Nepal, misalnya, gempa besar pada 2015 tidak hanya menyebabkan kerusakan luas dan kematian masif, tetapi juga memutus komunikasi dan menghancurkan transportasi dari wilayah terpencil hingga ibu kota Nepal.

"Orang-orang yang selamat dan luka-luka dibiarkan mengatasi masalah sendiri tanpa layanan darurat dan tanpa ada makanan," ujar Hewston.

Banjir

Studi itu mengidentifikasi banjir sebagai salah satu risiko yang paling signifikan untuk masyarakat dan sektor bisnis di Asia Selatan.

Bencana banjir di India Selatan menguras pengeluaran pemerintah hingga US$3 miliar (Rp39 triliun) tahun lalu dan menyebabkan sedikitnya 100 ribu orang mengungsi.

"Di India sendiri, 113 juta orang, atau 9% dari populasi, terkena bahaya banjir akut, dengan lebih 76 juta orang terkena di Bangladesh dan 10 juta di Pakistan," kata laporan itu.

Laporan itu juga memperingatkan pusat-pusat pertumbuhan teknologi, seperti Osaka (Jepang), Mexico City (Meksiko), dan Sao Paolo (Brasil) berada dalam 10 kota yang paling rawan bencana di dunia.

Natural Hazards Vulnerability Index juga menilai kemampuan suatu negara untuk bersiap menghadapi dan kemampuan pulih dari hantaman bencana alam.

Dalam kategori itu, Jepang dan Amerika Serikat mendapat nilai 'risiko rendah' dan Tiongkok 'berisiko menengah'.

Sementara itu, motor ekonomi Asia Selatan, seperti Bangladesh, Pakistan, dan India, masuk kategori 'berisiko tinggi'.

"Data ini menyoroti skala tugas yang dihadapi pemerintah dan kalangan bisnis dalam mengurangi risiko tinggi ancaman bencana alam terhadap populasi dan angkatan kerja di wilayah risiko tinggi," kata James Allan, Direktur Lingkungan Hidup di Verisk Maplecroft.

Afrika paling rentan

Jika kawasan Asia berada dalam risiko tinggi terkena dampak bencana alam, penduduk di negara-negara Afrika berada di peringkat paling rentan, yang diperparah dengan ketidakstabilan politik, korupsi, kemiskinan, penyakit, dan ketidaksetaraan.

Sebanyak 9 dari 10 negara dalam peringkat paling rentan terhadap bahaya alam menurut Natural Hazards Vulnerability Index berada di sub-Sahara Afrika dan 23 dari 25 negara berasal dari 'Benua Hitam'.

Sudan Selatan, yang dilanda bencana kekeringan dan perang, memimpin daftar negara yang paling tak berdaya dalam menghadapi bencana, diikuti Burundi, Afghanistan, Eritrea, Chad, Niger, Sudan, Mali, dan Republik Demokratik Kongo.

Afghanistan ialah satu-satunya negara non-Afrika yang masuk sembilan besar.

"Frekuensi dan besarnya peristiwa bencana alam tidak dapat dikendalikan," kata laporan Verisk Maplecroft.

"Tapi pengembangan dan implementasi strategi pengurangan risiko bencana dapat membantu meminimalkan dampak kemanusiaan dan ekonomi," pungkas laporan itu.

(Maplecroft.com/CNN/DW/Business Standard/Hym/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Zen
Berita Lainnya