Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Fujimori Melaju ke Putaran Kedua

AFP/Ths
12/4/2016 02:30
Fujimori Melaju ke Putaran Kedua
(AFP/LUKA GONZALES)

KEIKO Fujimori, putri mantan Presiden Alberto Fujimori, memimpin perolehan suara dalam pemilu perdana di Peru, Minggu (10/4) waktu setempat.

Kemenangan ini akan mengantar Keiko Fujimori sebagai pemimpin perempuan pertama di Peru.

Dalam pemilihan yang sarat jual-beli suara dan serangan kelompok gerilya serta menyebabkan tujuh orang tewas tersebut, Fujimori, 40, memimpin dua digit dari pesaing utamanya Pedro Pablo Kuczynski, 77.

Karena dukungan terhadap Fujimori masih kurang dari 50%, dia akan menghadapi pemilu lanjutan berhadapan dengan Kuczynski pada 5 Juni yang akan datang.

Dalam kampanyenya, kedua calon berjanji untuk meningkatkan perekonomian dan memerangi kejahatan.

Fujimori sebelumnya merayakan kemenangan setelah melihat sebuah hasil survei dari lembaga yang tidak resmi memperlihatkan hasil perolehan suara yang jauh mengungguli pesaingnya.

"Pemilih menuntut perubahan. Ini ialah tanggung jawab yang besar, yang harus kita hormati," katanya di hadapan pendukungnya.

"Peru ingin rekonsiliasi dan tidak ingin ada konflik lagi," katanya.

"Kami mengundang semua warga Peru pada 5 Juni untuk memilih perubahan dan untuk masa depan Peru."

Fujimori menempati urutan atas dengan raihan suara sebanyak 38% sejalan dengan jajak pendapat.

Sementara Kuczynski di urutan dua dengan dukungan 24,5%, seperti disampaikan Kepala Badan Pemilihan ONPE Mariano Cucho dalam pidatonya.

Namun, sebagian pengamat menilai proses pemilihan ini sudah dirusak ketika banyak kandidat lain yang kandas di tengah jalan karena undang-undang yang terlalu ketat.

Mereka menilai Keiko dan kandidat terkemuka lainnya memenangi pemilu karena politik uang.

Calon-calon yang gagal dalam proses seleksi, misalnya Julio Guzman, yang dalam jajak pendapat meraih urutan dua.

Sama halnya dengan delapan kandidat lainnya juga sama-sama dikeluarkan atau kurangnya dukungan.

Naiknya putri Alberto Fujimori ini membangkitkan ingatan akan sosok ayahnya yang berkuasa pada 1990-2000 yang terekam kuat dalam ingatan warga Peru.

Ia kini harus menjalani 25 tahun penjara atas kejahatan pembantaian terhadap kemanusiaan.

Pengadilan menahannya karena dianggap bertanggung jawab atas pembantaian 25 warga pada 1991 dan 1992.

Namun, dengan cacat kemanusiaanya itu, banyak pemilih yang masih simpatik, terutama untuk menghancurkan kelompok gerilyawan komunis yang sering melakukan serangan dan penculikan. (AFP/Ths/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Zen
Berita Lainnya