Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
TURKI dan Uni Eropa, Kamis (8/4), saling menyalahkan setelah Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen tidak mendapatkan tempat duduk kala bertemu dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Ankara.
Erdogan mendapat kritik tajam setelah gambar pertemuan antara dirinya dengan Von der Leten dan Presiden Dewan Eropa Charles Michel di Ankara, Selasa (6/4) menjadi viral.
Perdana Menteri Italia Mario Draghi bahkan menyebut insiden itu membuktikan bahwa Erdogan adalah seorang diktator. Pernyataan itu memancing tanggapan keras dari Turki.
Baca juga: PM Italia Sebut Erdogan Diktator, Turki Protes Keras
Ruang pertemuan antara ketiga pemimpin dunia itu hanya menyediakan dua kursi yang disusun di dekat bendera Uni Eropa dan Turki.
Erdogan dan Michel langsung menempati kedua kursi itu, sementara Von der Leyen--yang posisi diplomatisnya sejajar dengan kedua pemimpin itu--terpaksa berdiri.
"Ehm," kata Von der Leyen sembari mengangkat tangan ke arah Michel dan Erdogan.
"Pengaturan kursi itu sesuai dengan masukkan dari Uni Eropa. Titik," tegas pemerintah Turki dalam sebuah pernyataan resmi.
"Kami tidak akan mengungkapkan hal itu seandainya tidak ada tudingan bahwa insiden itu adalah kesalahan Turki," kilah Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu.
Namun, Dewan Eropa mengatakan tim protokol mereka tidak diizinkan meninjau ke ruang pertemuan sebelum pertemuan antara ketiga pemimpin itu.
"Jika ruangan untuk pertemuan tete-a-tete itu ditinjau terlebih dahulu, kami akan menyarankan kepada pihak tuan rumah untuk mengganti sofa dengan dua kursi bagi kedua pemimpin Uni Eropa," tegas tim protokol Dewan Eropa.
Insiden diplomatis itu dengan segera dijuluki sofagate dan menjadi pusat pembahasan pertemuan pertama antara Uni Eropa dan Turki dalam tempo satu tahun itu. (AFP/OL-1)
Uni Eropa mengusulkan sanksi baru terhadap Rusia dengan menargetkan pelabuhan di negara ketiga, termasuk Pelabuhan Karimun di Indonesia, dalam paket sanksi ke-20.
Selain penetapan status teroris bagi IRGC, Uni Eropa juga memperluas daftar sanksi individu. Sebanyak 15 pejabat dari sektor keamanan dan peradilan Iran secara resmi masuk dalam daftar hitam.
PARA menteri luar negeri Uni Eropa untuk pertama kali dalam pertemuan pada Kamis (29/1) menyebut Amerika Serikat sebagai ancaman bagi benua tersebut.
Kremlin sebut Uni Eropa inkompeten dan tolak dialog dengan Kaja Kallas terkait perang Ukraina. Moskow pilih jalur komunikasi langsung dengan AS tanpa melibatkan UE.
Presiden Zelenskyy menyatakan dokumen jaminan keamanan AS-Ukraina siap diteken usai pertemuan trilateral di Abu Dhabi. Isu teritorial masih jadi ganjalan utama.
MEMASUKI awal 2026, dunia dikejutkan oleh tindakan unilateral Amerika Serikat yang sangat drastis di kawasan Karibia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved