Rabu 03 Maret 2021, 19:15 WIB

Komite Olimpiade Tokyo 2020 Bahas Kehadiran Penonton

Mediaindonesia.com | Internasional
Komite Olimpiade Tokyo 2020 Bahas Kehadiran Penonton

shotarohondamoore.medium.com
Olimpiade Tokyo 2020

 

Para pejabat Komite Olimpiade Internasional (IOC) serta empat orang dari penyelenggara Tokyo 2020 akan mengadakan pertemuan virtual pada Rabu (3/3) untuk membahas keputusan terkait kehadiran penonton pada pesta olahraga empat tahunan itu.

Dilansir Kyodo News, Rabu, Presiden IOC Thomas Bach dan Ketua Komite Penyelenggara Tokyo 2020 Seiko Hashimoto merupakan dua di antara perwakilan yang akan hadir dalam pertemuan bersama lima pihak itu.

Pejabat Tokyo 2020 mengatakan diskusi kemungkinan berfokus pada pembicaraan soal apakah penonton dari luar negeri diperbolehkan menyaksikan Olimpiade dan Paralimpiade atau tidak.

Di tengah situasi pandemi yang tidak mungkin teratasi pada musim panas ini, mereka juga diharapkan dapat menghasilkan keputusan soal pembatasan jumlah penonton di Olimpiade nanti.

Ketua Komite Paralimpiade Internasional Andrew Parsons, Gubernur Tokyo Yuriko Koike dan Menteri Olimpiade Jepang Tamayo Marukawa juga akan hadir dalam rapat tersebut.

Rapat tersebut bakal menjadi yang pertama kalinya bagi mereka sejak Hashimoto menggantikan Yoshiro Mori sebagai presiden Tokyo 2020, Februari lalu.

Pemerintah Jepang telah mengkaji berbagai skenario, termasuk kemungkinan penyelenggaraan Olimpiade secara tertutup atau disaksikan dengan sejumlah kecil penonton.

Bach mengatakan dalam jumpa pers Februari lalu bahwa keputusan apakah penonton dari luar negeri diizinkan masuk Jepang akan diambil pada April atau awal Mei.

Namun Hashimoto justru ingin agar keputusan soal penonton ini dapat ditetapkan sekitar 25 Maret ketika estafet obor Olimpiade dimulai di Prefektur Fukushima.

Dalam sebuah laporan interim yang ditulis panel dari pemerintahan, yang dirilis Desember, tertulis bahwa pengunjung asing akan dibebaskan dari aturan karantina 14 hari dan akan diizinkan menggunakan transportasi umum.

Pemerintah berencana mengeluarkan 7,3 miliar yen atau 68 juta dolar AS (sekira Rp970 miliar) untuk mengembangkan aplikasi pelacakan kontak.

Namun rencana tersebut dikritik oleh pihak oposisi yang mengatakan bahwa alat tersebut tidak efektif mencegah penyebaran virus. Pengadaannya juga dinilai hanya akan menghamburkan uang di tengah ketidakpastian pelaksanaan Olimpiade Tokyo. (Ant/OL-12)

Baca Juga

AFP/ Fabrice COFFRINI

Swiss Longgarkan Pembatasan Covid-19

👤Basuki Eka Purnama 🕔Kamis 15 April 2021, 07:39 WIB
Per Senin (19/4), restoran dan bar di Swiss, yang diharuskan tutup sejak Desember, akan diizinkan melayani konsumen namun di area...
AFP/THOMAS WATKINS

NATO Sepakat Mulai Tarik Pasukan dari Afghanistan pada 1 Mei

👤Basuki Eka Purnama 🕔Kamis 15 April 2021, 07:24 WIB
"Kami berencana menyelesaikan penarikan pasukan itu dalam tempo beberapa...
 AFP/CHANDAN KHANNA

AS Klaim 194 Juta Dosis Vaksin Telah Diberikan ke Warganya

👤Nur Aivanni 🕔Kamis 15 April 2021, 07:21 WIB
AS telah memberikan 194.791.836 dosis vaksin covid-19 di negara itu per Rabu (14/4) pagi dan mendistribusikan 250.998.265...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Tajamnya Lancang Kuning di Lapangan

 Polda Riau meluncurkan aplikasi Lancang Kuning untuk menangani kebakaran hutan dan lahan. Berhasil di lapangan, dipuji banyak kalangan.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya