Selasa 23 Februari 2021, 13:31 WIB

Warga Rohingya Terombang-ambing di Lautan & Kehabisan Makanan

Atikah Ishmah Winahyu | Internasional
Warga Rohingya Terombang-ambing di Lautan & Kehabisan Makanan

AFP/REHMAN ASAD
Pengungsi Rohingya

 

BADAN Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa menyerukan penyelamatan segera terhadap sekelompok pengungsi Rohingya yang berada di atas kapal terombang-ambing di Laut Andaman tanpa makanan atau air. Banyak di antara mereka yang sakit dan menderita dehidrasi ekstrem.

Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) tidak mengetahui lokasi pasti kapal tersebut dan mengerti beberapa penumpang telah meninggal. Kapal itu telah meninggalkan Bangladesh selatan sekitar 10 hari yang lalu dan mengalami kerusakan mesin.

“Tindakan segera diperlukan untuk menyelamatkan nyawa dan mencegah tragedi lebih lanjut,” kata UNHCR dalam sebuah pernyataan.

Badan itu juga menawarkan untuk mendukung pemerintah dengan memberikan bantuan kemanusiaan kepada mereka yang diselamatkan.

Seorang pejabat senior penjaga pantai India mengonfirmasi kapal telah dilacak ke sebuah daerah di lepas pulau Andaman dan Nicobar.

“Setidaknya delapan orang tewas di kapal itu,” menurut Chris Lewa, direktur Proyek Arakan, sebuah kelompok yang memantau krisis Rohingya.

Baca juga: UNHCR: Segera Selamatkan Pengungsi Rohingya di Laut Andaman

Lewa mengatakan kapal angkatan laut India yang berada di dekatnya telah menyediakan makanan dan air.

“Tapi kami masih belum tahu apa yang akan mereka lakukan setelah itu,” imbuhnya.

Seorang juru bicara angkatan laut India tidak memberikan rincian situasi tersebut tetapi mengatakan akan segera memberikan pernyataan.

Menurut UNHCR, kapal itu berangkat dari distrik pesisir Cox's Bazar Bangladesh, tempat sekitar satu juta orang Rohingya hidup dalam kondisi yang mengerikan di kamp-kamp pengungsi yang luas.

Sementara itu di Malaysia, para aktivis telah membuat upaya hukum terakhir untuk menghentikan deportasi 1.200 tahanan Myanmar ke tanah air mereka Selasa (23/2), beberapa pekan setelah kudeta, menyusul badai kritik.

Para migran, termasuk anggota minoritas yang rentan, tiba di pangkalan militer di pantai barat Malaysia, untuk dimuat ke tiga kapal yang dikirim oleh angkatan laut Myanmar.

Amerika Serikat dan PBB telah mengkritik rencana tersebut, dan telah meminta badan pengungsi PBB untuk diberikan akses kepada para tahanan untuk menilai apakah ada pencari suaka.

PBB mengaku mengetahui setidaknya enam terdaftar dengan mereka dan membutuhkan perlindungan internasional.

Ratusan ribu orang Rohingya melarikan diri ke Bangladesh pada 2017 setelah tindakan keras mematikan oleh pasukan keamanan di Myanmar.

Pihak berwenang di Bangladesh mengatakan tidak mengetahui adanya kapal yang meninggalkan kamp.

"Jika kami memiliki informasi seperti itu, kami akan menghentikan mereka," kata Rafiqul Islam, seorang pengawas polisi tambahan di Cox's Bazar.

Amnesty International mengatakan, dalam sebuah pernyataan, terlalu banyak nyawa telah hilang dari negara-negara yang menolak membantu orang-orang Rohingya di laut.

“Pengulangan insiden memalukan itu harus dihindari di sini,” kata juru kampanye Amnesty Asia Selatan Saad Hammadi.

"Setelah bertahun-tahun terombang-ambing di Bangladesh dan setelah kudeta baru-baru ini di Myanmar, orang-orang Rohingya merasa mereka tidak punya pilihan selain melakukan perjalanan berbahaya ini,” tukasnya.(The Guardian/OL-5)

Baca Juga

AFP

Kasus Kematian Global Akibat Covid-19 Capai 2,5 Juta

👤Nur Aivanni 🕔Jumat 26 Februari 2021, 07:49 WIB
Eropa dengan 842 ribu kasus kematian, menjadi wilayah yang paling terpukul. Kemudian disusul Amerika Latin dan Karibia, berikut Amerika...
AFP

Lebih dari 250 Ribu Warga Brasil Meninggal Akibat Covid-19

👤Nur Aivanni 🕔Jumat 26 Februari 2021, 07:11 WIB
Angka kematian di Brasil merupakan tertinggi kedua di dunia, setelah Amerika Serikat. Diketahui, kasus kematian akibat covid-19 di AS sudah...
AFP/Angela Weiss

Varian Baru Virus Korona Meningkat di New York

👤Mediaindonesia.com 🕔Kamis 25 Februari 2021, 22:55 WIB
Varian baru virus korona, yang dikenal sebagai B.1.526, pertama kali diidentifikasi dalam sampel yang dikumpulkan di New York pada...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya