Headline
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Kumpulan Berita DPR RI
Global E-Waste Statistic Partnership (GESP), Organisasi di bawah Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mengurus sampah elektronik, mengeluarkan laporan yang menunjukkan sampah elektronik terus menggunung sejak lima tahun terakhir.
"Naik 21 persen dalam lima tahun," kata GESP di situs resmi mereka, dikutip Sabtu (4/7).
Kenaikan sampah elektronik, menurut riset GESP dipicu tingkat konsumsi benda elektronik yang tinggi, usia pakai barang singkat dan hanya sedikit perbaikan.
Faktor ekonomi juga turut berperan dalam sampah elektronik, yaitu urbanisasi, industrialisasi dan kenaikan pendapatan yang siap dibelanjakan atau disposable income.
Sampah elektronik pada umumnya masih mengandung material yang bisa diekstrak kembali, seperti aluminium, baja, dan besi.
Laporan edisi ketiga The Global E-Waste Monitor 2020 dirilis pada Juni lalu, menunjukkan sampah elektronik, atau e-waste, global pada 2019 mencapai 53,6 metrik ton, rata-rata per kapita 7,3 kilogram.
Kenaikan sampah elektronik per tahun mencapai 2,5 juta metrik ton. Sementara itu, kenaikan jika dibandingkan pada 2014 berjumlah 9,2 metrik ton.
Laporan tersebut menunjukkan Asia menyumbang sampah elektronik terbanyak pada 2019, sebesar 24,9 metrik ton, diikuti Amerika 13,1 metrik ton.
Eropa menghasilkan sampah elektronik sebanyak 12 metrik ton, diikuti Afrika dan Oseania masing-masing 2,9 dan 0,7 metrik ton.
Temuan lain dari GESP, baru 9,3 juta metrik ton sampah elektronik yang dikumpulkan dan didaur ulang, atau 17,4 persen dari total sampah yang dihasilkan.
Sebanyak 44,3 metrik ton lainnya, atau 82,6 persen tidak terdokumentasi dan tidak jelas digunakan untuk apa.
Wilayah tertinggi yang mengumpulkan dan mendaur ulang sampah elektronik adalah Eropa yaitu 42,5 persen, diikuti Asia 11,7 persen dan Amerika 9,4 persen. Oseania melakukannya sebanyak 8,8 persen, sementara Afrika 0,9 persen.
Di negara maju, produk elektronik yang sudah tidak terpakai bisa diperbaiki dan digunakan kembali, umumnya dikirim sebagai barang rekondisi (refurbished) ke negara berpendapatan rendah hingga menengah, jumlahnya mencapai 7 hingga 20 persen.
Hanya 8 persen benda elektronik tidak terpakai yang berakhir sebagai sampah elektronik. (OL-12)
Melampaui sidak terminal, inilah 5 kebijakan radikal Menteri LH Hanif Faisol untuk tuntaskan krisis sampah nasional melalui sistem MRF dan Gakkum.
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq mengimbau masyarakat yang melakukan perjalanan mudik Lebaran untuk mengurangi timbulan sampah selama perjalanan.
Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) memperkirakan total sampah yang dihasilkan selama periode mudik bisa mencapai sekitar 71.960 ton.
Anggota DPR RI Arif Riyanto Uopdana mendorong pembangunan TPS 3R dan TPA modern di Pegunungan Bintang demi atasi masalah sampah di Oksibi
Pemda mengakui adanya kendala pengangkutan akibat daya tampung TPA yang sudah tidak memadai.
ANGGOTA DPRD DKI Jakarta Hardiyanto Kenneth minta agar ada evaluasi yang dilakukan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI setelah Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang kongsor.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved