Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

Prancis tidak akan Turunkan Patung Kontroversial

MI
16/6/2020 01:15
Prancis tidak akan Turunkan Patung Kontroversial
Presiden Prancis Emmanuel Macron(AFP)

PRESIDEN Prancis Emmanuel Macron berjanji untuk melawan rasialisme di negaranya. Namun, ia menolak menurunkan patung-patung tokoh era kolonial yang kontroversial.

Itu pertama kalinya Macron berbicara mengenai masalah tersebut sejak kematian warga kulit hitam bernama George Floyd di Amerika Serikat beberapa waktu lalu. Kematian Floyd di tangan polisi AS telah memicu aksi protes di seluruh dunia, termasuk di Prancis.

Para demonstran di Prancis menyatakan kemarahan mereka atas ketidakadilan rasial dan kebrutalan polisi, khususnya terhadap kaum minoritas dari bekas koloni Prancis di Afrika. Macron mengakui alamat, nama, dan warna kulit seseorang bisa mengurangi peluang mereka
untuk berhasil dalam masyarakat Prancis.

Akan tetapi, ia menyerukan perjuangan untuk memastikan bahwa setiap orang bisa menemukan tempat mereka tanpa memandang asal etnik atau agama. Dia pun berjanji untuk tidak berkompromi dalam menghadapi rasialisme, anti-Semitisme, dan diskriminasi. 

Namun, dia menegaskan Prancis tidak akan menurunkan patung-patung tokoh era kolonial yang kontroversial seperti yang terjadi di beberapa negara lain seperti AS dan Inggris dalam beberapa pekan terakhir. Termasuk soal patung tokoh yang dikaitkan dengan perdagangan budak Prancis atau kesalahan kolonial.

“Prancis tidak akan menghapus setiap jejak atau nama dari sejarahnya. Prancis tidak akan melupakan hasil karya mereka. Tidak akan ada patung yang dirobohkan. Tapi kita akan merenungi sejarah dan pengalaman kita bersama-sama.” ujarnya.

Macron menyatakan hal itu terutama penting terkait Afrika, tempat Prancis menjadi penjajah kolonial dan meninggalkan warisan sejarah yang mengundang kemarahan. Ia memperingatkan, perjuangan melawan rasialisme bisa terdistorsi jika dieksploitasi oleh pihak-pihak yang disebutnya sebagai separatis.

Di sisi lain, sebagai tanda sensitivitas di Prancis, mantan Perdana Menteri Jean-Marc Ayrault mendesak ruangan parlemen yang bernama aula Colbert untuk diganti. Soalnya Jean-Baptiste Colbert adalah tokoh masa lalu yang merumuskan Code Noir atau undang-undang
yang terkait dengan perbudakan. (AFP/ Nur/X-11)
 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya