Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
KEPALA Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Rabu (1/4), menyuarakan keprihatinan mendalam tentang peningkatan yang cepat dan penyebaran global kasus penyakit virus korona baru (covid-19), yang kini telah mencapai 205 negara dan wilayah.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan lembaganya, Bank Dunia, dan Dana Moneter Internasional (IMF) mendukung bantuan utang untuk membantu negara-negara berkembang mengatasi konsekuensi sosial dan ekonomi akibat pandemi itu.
"Dalam lima minggu terakhir, telah terjadi pertumbuhan yang hampir eksponensial dalam jumlah kasus baru dan jumlah kematian meningkat dua kali lipat dalam sepekan terakhir," ujar Tedros pada konferensi pers virtual di Jenewa, tempat WHO berpusat.
"Dalam beberapa hari ke depan, kita akan mencapai 1 juta kasus yang dikonfirmasi dan 50 ribu kematian di seluruh dunia," katanya.
Baca juga: Bayi Enam Pekan Tewas karena Covid-19 di AS
Tiongkok, asal virus pertama kali muncul pada Desember, melaporkan berkurangnya infeksi baru pada Rabu (1/4) dan untuk pertama kalinya mengungkapkan jumlah kasus tanpa gejala, yang dapat memperumit bagaimana tren dalam wabah itu dibaca.
Angka terakhir Beijing mengecualikan 130 penderita baru dari kasus Covid-19 yang tidak menunjukkan gejala, statistik menunjukkan.
Ditanya tentang perbedaannya, Dr Maria ver Kerkhove, ahli epidemiologi WHO yang merupakan bagian dari tim internasional yang pergi ke Tiongkok pada Februari, mengatakan definisi WHO termasuk kasus yang dikonfirmasi laboratorium terlepas dari perkembangan gejala.
"Dari data yang telah kami lihat dari Tiongkok khususnya, kami tahu orang-orang yang diidentifikasi, yang terdaftar sebagai tanpa gejala, sekitar 75% dari mereka yang benar-benar mengalami gejala," ujarnya, menggambarkan mereka telah berada dalam fase pragejala.
“Penting bagi WHO menangkap spektrum penuh penyakit ini,” tambahnya.
Sementara Tedros, merujuk pada usulan bantuan utang, mengatakan banyak negara, terutama negara-negara berkembang, tidak mampu mendukung masyarakat mereka khusunya selama penerapan penguncian wilayah (lockdown).
“Terutama anggota masyarakat yang bekerja untuk makanan sehari-hari mereka. Itulah sebabnya kami meminta komunitas internasional untuk memberikan bantuan utang untuk mendukung negara-negara tersebut.”
"Kami mengusulkan prosesnya dipercepat untuk mendukung negara-negara seperti ini sehingga ekonomi mereka tidak terjerembab ke krisis, (dan) komunitas mereka tidak jatuh ke krisis," tandasnya. (CNA/OL-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved