Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
DI Indonesia, musik, umumnya dangdut, kerap digunakan dalam kegiatan kampanye politik. Tujuannya sekadar menarik kerumunan massa. Lagu yang dilantunkan pun tak ada hubungan dengan misi para kandidat.
Lain halnya di Amerika Serikat. Pada setiap kampanye, Elizabeth Warren, kandidat Partai Demokrat untuk kursi kepresidenan Amerika Serikat, menunggu untuk mendengar nada pertama penyanyi populer Dolly Parton yang menyanyikan "9 To 5", sebelum melangkah dengan penuh semangat ke atas panggung untuk menyambut para pendukung yang sangat antusias.
Latar belakang musikal dari ritual kampanye ini menggambarkan kesibukan sehari-hari para pekerja Amerika: "Bersiaplah pukul 9 hingga 5.
Pilihan lagu sang senator ini (yang lain dalam daftar favoritnya termasuk Everyday People yang dilantunkan Joan Jett and The Blackheart dan Respect milik Aretha Franklin), ditujukan untuk memberikan dorongan emosional kepada para pendukung sambil membangkitkan akar kelas pekerja.
Kandidat progresif dari Massachusetts berusia 70 tahun itu berkompetisi untuk mendapatkan dukungan pemilih dalam rivalitas untuk menghadapi Presiden Donald Trump dalam pemilihan November tahun depan.
"Musik yang digunakan oleh para kandidat dipilih dengan sangat hati-hati untuk menarik perhatian audiens tertentu atau membentuk image kandidat yang selaras dengan para pemilih," kata Associate Professor Jacob Neiheisel, seorang ilmuwan politik dari University at Buffalo (New York), kepada AFP, Minggu (22/12).
Senator Bernie Sanders, seorang sosialis demokrat yang penuh semangat merupakan kandidat tertua dalam rivalitas pemilihan tahun ini, membuka aksi unjuk rasa militan dengan Power To The People karya John Lennon, sebuah ode perlawanan era 1970-an. Dia juga menyukai "Takin 'It To The Streets" milik band The Doobie Brothers.
Sementara kandidat populer Demokrat, Joe Biden, yang menganut julukan "Joe Kelas Menengah", secara teratur mengakhiri kampanyenya dengan penyanyi country Kenny Chesney ("For the teacher in the classroom, kid kickin' cans in the street/...We say we can when they say we can't").
Musik country sangat populer di jantung Amerika, khususnya di antara pemilih yang lebih konservatif.
Biden menjabat delapan tahun sebagai wakil presiden mantan Presiden Barack Obama dan tidak pernah melewatkan kesempatan untuk menyoroti hubungannya dengan presiden kulit hitam pertama negara itu. Ia memasukkan artis kulit hitam dan putih yang jumlahnya hampir sama di playlist-nya.
Adapun Julian Castro, satu-satunya kandidat Hispanik dari Partai Demokrat, sangat menyukai musik Latin, terutama karya mendiang bintang Meksiko-Amerika, Selena. Dia sepertinya berusaha menjangkau demografi penting menjelang pemilihan umum 2020.
Musik juga memungkinkan para kandidat untuk menciptakan momen-momen yang tak terlupakan, sebuah pendekatan yang telah teruji oleh waktu.
Mantan Presiden Bill Clinton, seorang Demokrat dan penggemar berat jazz, misalnya, memainkan cara ini dengan sukses ketika ia menampilkan "Heartbreak Hotel" Elvis Presley dalam penampilan talk show televisi selama kampanye 1992.
Berdasarkan data, kandidat dari Partai Demokrat umumnya diterima lebih baik di tengah kalangan anak muda daripada lawan mereka dari Partai Republik, dan musik membantu mereka menembus kerumunan berusia 18-25 tahun, sebuah demografi kunci untuk dapat dimobilisasi sebagai pemilih.
Di pihak Republik, Donald Trump menyukai musik populer dan patriotik dalam unjuk rasanya, seperti "God Bless The U.S.A." karya Lee Greenwood, sebuah lagu country dari 1980-an yang jelas bertujuan untuk menarik basis politiknya.
Namun, beberapa pilihan lagu dia juga tak jarang menunai kontroversi.
Ketika para pembantu Trump memainkan lagu memukau Luciano Pavarotti "Nessun Dorma" dalam kampanyenya, sebuah lagu yang dimaksudkan untuk memberikan rasa keagungan di antara lautan para pendukung, keluarga almarhum sang penyanyi malah memprotesnya.
Tak hanya Pavarotti, beberapa artis lain atau ahli warisnya seperti the Rolling Stones yang lagunya You Can't Always Get What You Want yang dicomot Trump untuk kampanye juga protes. Begitu juga lagu milik Queen, Adele, R.E.M., dan Neil Young, keberatan lagu mereka dipakai untuk konvensi Partai Republik. (A-1)
Album Britpop, yang dirilis pekan lalu, menjadi album ke-16 dalam karier solo Robbie Williams yang berhasil memuncaki tangga lagu.
Lagu Apa Arti Cinta dari Danil Josse hadir dengan balutan aransemen pop mainstream yang progresif namun tetap terasa hangat.
Secara musikal, SonicFlo memilih jalur pop-alternative sebagai identitasnya.
Melalui judul Terbentur, Terbentur, Terbentur, Febinda Tito tidak bermaksud menyampaikan keluhan.
Kembali Kepadamu dari Pugar Restu Julian bukan sekadar lagu biasa, melainkan sebuah medium perenungan mengenai momen di mana segala perbuatan pada akhirnya akan kembali kepada diri sendiri.
Tur Harry Styles, Together, Together, akan berlangsung selama tujuh bulan, dimulai dari Mei hingga Desember.
inDrive berupaya menjawab tantangan lonjakan permintaan penumpang di Bandung yang belum sepenuhnya diimbangi ketersediaan armada,
Kampanye #PlayMyWay dilakukan sepanjang 2025 dengan berbagai aktivitas yang merangkul berbagai pihak untuk menghadirkan pengalaman autentik.
Revisi UU Pemilu, pergeseran fokus dari sanksi pidana ke sanksi administratif yang dinilai lebih memberikan efek jera kepada peserta pemilu.
Kampanye di era digital menuntut kreativitas, komunikasi yang lebih terbuka, serta kemampuan membaca karakter pemilih.
BLP Beauty, merek kecantikan lokal yang didirikan oleh Lizzie Parra, bekerja sama dengan Du Anyam, sebuah kewirausahaan sosial yang berfokus pada pemberdayaan perempuan
WARGA Jakarta dikejutkan oleh pemandangan tidak biasa pada Jumat, (18/7). Tiga unit mobil sport supercar dengan desain visual mencolok, bersama tiga truk LED bergaya futuristik,
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved