Selasa 28 Mei 2019, 11:54 WIB

PM Papua Nugini Batal Mengundurkan Diri

Willy Haryono | Internasional
PM Papua Nugini Batal Mengundurkan Diri

AFP/PETER PARKS
PM Papua Nugini Peter O'Neill

 

PERDANA Menteri Papua Nugini Peter O'Neill membatalkan pengunduran dirinya meski telah mengumumkan langkah tersebut beberapa hari lalu.

Alih-alih mundur, ia justru mengambil langkah hukum untuk mencegah adanya mosi tidak percaya di parlemen, Selasa (28/5).

Dinilai sebagai usaha terakhir mempertahankan kekuasaan, PM O'Neill mendorong Mahkamah Agung untuk mencegah rencana pemungutan suara mosi tidak percaya di parlemen Papua Nugini.

PM O'Neill telah mengumumkan pengunduran dirinya pada Minggu (26/5). Namun, hingga saat ini, ia belum menyerahkan berkas pengunduran dirinya ke jaksa agung.

Berkuasa sejak 2011, PM O'Neill mempertahankan posisinya di tengah banyaknya tokoh kabinet yang berpindah ke kubu oposisi.

Kepindahan para tokoh itu dipicu kesepakatan yang dibuat PM O'Neill terkait proyek gas cair bernilai miliaran dolar dengan perusahaan Total dan ExxonMobil.

Baca juga: PM Papua Nugini Umumkan Mundur

Masyarakat lokal mengecam keras proyek tersebut, yang dinilai tidak akan menguntungkan mereka dan hanya akan memperkaya jajaran penguasa.

Dikutip dari laman AFP, parlemen Papua Nugini berencana menggelar pemungutan suara mosi tidak percaya terhadap PM O'Neill pada 6 Juni mendatang.

Dalam surat permohonan ke Mahkamah Agung, PM O'Neill mengaku ingin "memastikan kejelasan konstitusi dan proses hukum."

Menurut anggota parlemen oposisi Brian Kramer, Mahkamah Agung menolak mendengarkan permohonan PM O'Neill hari ini, dan menjadwalkannya untuk Jumat mendatang.

Saat mengumumkan pengunduran diri pada Minggu (26/5), PM O'Neill mengaku akan menyerahkan jabatannya ke mantan PM Papua Nugini Julius Chan.

"Penting bagi kami untuk tetap menjaga stabilitas. Kami telah mendengar seruan (mundur) dan menyepakati adanya perubahan pemerintahan," tutur O'Neill kepada awak media di Port Moresby.

Merespons keinginan PM O'Neill, Chan mengaku menginginkan adanya transisi pemerintahan yang berjalan mulus di Papua Nugini, negara dengan total populasi 7,3 juta jiwa.

"Saya ingin berterima kasih kepada Perdana Menteri Peter O'Neill atas semua yang telah beliau lakukan untuk negara ini," ucap Chan kepada para jurnalis. (Medcom/OL-2)

Baca Juga

AFP/MARTIN BUREAU

Prancis Majukan Jam Malam untuk Bendung Covid-19

👤Nur Aivanni 🕔Minggu 17 Januari 2021, 08:56 WIB
Jam malam diberlakukan dua jam lebih awal menjadi pukul 18.00 waktu setempat dan berlangsung hingga pukul 06.00 waktu...
AFP/Angela Weiss

Saat Pelantikan, Biden akan Teken Sejumlah Perintah Eksekutif

👤Nur Aivanni 🕔Minggu 17 Januari 2021, 07:37 WIB
"Dalam sepuluh hari pertamanya menjabat, Presiden terpilih Biden akan mengambil tindakan tegas untuk mengatasi empat krisis ini,...
(Photo by MICHAEL TEWELDE / AFP)

Lebih dari 2 Juta Orang Meninggal akibat Covid-19

👤(Aiw/The Guardian/NYPost/Aljazeera/I-1) 🕔Minggu 17 Januari 2021, 04:55 WIB
PANDEMI covid-19 kini telah menyebabkan lebih dari 2 juta orang meninggal di seluruh...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya