Sabtu 04 Mei 2019, 05:45 WIB

Perempuan Muslim Sri Lanka Lepas Tutup Wajah

AFP/Denny Parsaulian Sinaga/I-1 | Internasional
Perempuan Muslim Sri Lanka Lepas Tutup Wajah

ISHARA S. KODIKARA / AFP
Pelarangan penggunaan niqab.

 

KETEGANGAN agama dan larangan pemerintah untuk menutupi wajah sejak serangan bunuh diri pada Minggu Paskah telah memaksa wanita muslim konservatif di Sri Lanka untuk menghindari kerudung, selendang kepala, dan jubah panjang di depan umum.

Muslim di negara Asia Selatan itu merasa mereka sekarang malah menjadi target sejak jihadis pelaku bom bunuh diri membunuh lebih dari 250 orang. Serangan itu terkoordinasi dilakukan di enam gereja dan hotel.

Banyak wanita mengatakan mereka berhenti mengenakan kerudung wajah niqab, syal jilbab, dan jubah abaya setelah serangan, yang telah diklaim oleh kelompok Negara Islam (IS).

Senin (29/4), pemerintah Sri Lanka melarang wanita menutupi wajah mereka di depan umum, sejalan dengan peraturan di sejumlah negara Eropa, seperti Prancis, Denmark, dan Belgia.

Populasi 21 juta penduduk Sri Lanka ialah gabungan dari banyak etnik dan agama yang didominasi oleh mayoritas Buddha Sinhala dengan sisanya Hindu (12,5% dari populasi), muslim (9,5%), serta Kristen (7,0%).

“Saya telah berhenti mengenakan abaya dan jilbab dalam beberapa hari terakhir karena komentar atas penampilan saya,” kata seorang janda muslim yang meminta namanya tidak disebutkan.

Dia mengatakan akan mulai memakainya lagi saat situasinya lebih tenang dan orang-orang kurang paranoid. “Jilbab belum dilarang, tetapi orang-orang curiga ketika mereka melihat saya memakainya.”

Mareena Thaha Reffai, seorang ustaz dan kepala organisasi wanita, mengatakan lebih baik mematuhi larangan itu daripada memicu perselisihan agama.

“Ini bukan saatnya untuk berdebat tentang hak-hak. Dua ratus lima puluh orang telah tewas, 500 orang terluka,” kata Reffai. “Biarkan emosi turun. Mari kita bahas ini (pelarangan) dengan santai.”

Pemimpin Katolik Roma di negara itu, Kardinal Malcolm Ranjith, tidak akan mempertimbangkan larangan tersebut meskipun dia mengatakan bahwa beberapa komunitas Islam telah menuruti larangan itu.

“Kami tidak bisa mengambil posisi,” kata kardinal kepada AFP. “Kami tidak tahu apa yang menjadi dasar dan latar belakang larangan ini. Namun, ulama muslim menginginkannya.”

Bhikkhu Buddha Omalpe Sobitha menyambut larangan niqab itu. “Ketika orang-orang menutupi wajah, kita tidak tahu siapa di balik tabir itu,” katanya. “Bahkan para penjahat bisa menggunakan pakaian ini untuk menyembunyikan identitas mereka. Jadi, itu langkah yang baik untuk melarang ini.”

Dewan ulama Islam Sri Lanka telah memohon wanita muslim beberapa hari sebelum pemerintah melarang untuk tidak menutupi wajah mereka.

“Kami sangat mengimbau para saudari kita untuk memperhatikan situasi darurat kritis yang sekarang berlaku di negara kita,” kata All Ceylon Jamiyyathul Ulama dalam sebuah pernyataan. “Kami menyarankan, dalam situasi ini, saudari kita tidak boleh menghalangi pasukan keamanan dalam upaya mereka untuk menjaga keamanan nasional dengan mengenakan penutup wajah.”

Beberapa warga muslim merasa aturan berpakaian teralihkan dari masalah yang lebih besar, yakni kegagalan intelijen yang menyebabkan serangan yang menghancurkan. (AFP/Denny Parsaulian Sinaga/I-1)

Baca Juga

AFP/Alex Edelman

Kandidat Menlu AS akan Segera Evaluasi Label Teroris Huthi

👤Basuki Eka Purnama 🕔Rabu 20 Januari 2021, 06:17 WIB
Hal itu dilakukan karena khawatir krisis kemanusiaan di Yaman akan...
AFP/JOSHUA ROBERTS

Biden Siapkan Reformasi Imigrasi

👤Basuki Eka Purnama 🕔Rabu 20 Januari 2021, 05:54 WIB
Reformasi itu akan mencakup jalur untuk mendapatkan kewarganegaraan bagi jutaan penduduk ilegal AS dan kemungkinan suaka bagi mereka yang...
AFP/Angela Weiss

Banyak Laporan Laba, Saham di Wall Street Meroket

👤Mediaindonesia.com 🕔Rabu 20 Januari 2021, 02:15 WIB
Delapan dari 11 sektor utama Indeks S&P 500 naik pada perdagangan pagi, dengan energi naik 1,7 persen, melampaui...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya