Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
PERTEMUAN Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un di Singapura pada Selasa (12/6) adalah puncak dari kegamangan diplomasi yang mendingin di dan sekitar Semenanjung Korea tahun ini.
Washington menuntut denuklirisasi lengkap yang dapat diverifikasi, dapat dibuktikan dan tidak dapat dibalikkan (oleh Korea Utara). Sementara Pyongyang sejauh ini hanya membuat janji publik tentang komitmennya terhadap denuklirisasi di semenanjung—sebuah istilah yang berinterpretasi luas, sambil mencari jaminan keamanan.
Mantan Deputi Menlu AS Richard Armitage memperkirakan hanya sedikit kemajuan pada isu kunci terkait definisi denuklirisasi.
"Keberhasilan hanya akan berada di sisi kamera," katanya. "Mereka berdua mendapatkan apa yang mereka inginkan."
Pekan lalu, Trump bersikeras bahwa KTT itu tidak akan hanya bagus untuk foto. Trump mengatakan itu akan membantu membentuk hubungan baik yang akan mengarah pada proses lahirnya sebuah kesepakatan.
Namun, ketika dia berangkat ke Singapura, dia mengubah nadanya, menyebutnya sebagai kesempatan satu-satunya dan menambahkan bahwa dia akan tahu dalam menit pertama apakah pertemuan akan menghasilkan kesepakatan.
"Jika saya pikir itu tidak akan terjadi, saya tidak akan membuang waktu saya," katanya.
Dia juga menggantungkan prospek Kim Jong Un mengunjungi Washington jika pertemuan berjalan dengan baik.
"Orang-orang menyebutnya KTT bersejarah tapi ... penting untuk memahami bahwa KTT ini tersedia bagi setiap presiden AS yang ingin melakukannya dan intinya adalah tidak ada presiden AS yang ingin melakukan ini, dan untuk alasan yang baik," kata Christopher Hill, mantan negosiator nuklir AS dengan Korea Utara.
Ketegangan sedasawarsa
Korea Utara (Korut) dan Amerika Serikat (AS) telah berselisih selama beberapa dekade.
Korut menginvasi Korea Selatan pada 1950 dan perang pun terjadi dengan pasukan PBB yang dipimpin AS.
Seoul didukung AS dan PBB berperang melawan pasukan Pyongyang yang dibantu oleh Rusia dan Tiongkok. Konflik berakhir dengan kebuntuan dan gencatan senjata yang membagi semenanjung.
Provokasi sporadis oleh Korut terus berlanjut sembari meningkatkan dan megembangkan persenjataan nuklir mereka. Korut menganggap ini perlu untuk mempertahankan diri dari risiko invasi AS.
Tahun lalu, Korut melakukan uji coba nuklir paling kuat hingga saat ini dan meluncurkan rudal yang mampu mencapai daratan AS.
Hal ini meningkatkan ketegangan ke tingkat yang tak pernah terlihat di tahun-tahun sebelumnya, sehingga Trump yang baru terpilih mengancam perang dan menghina Kim. Trump pun dijuluki sebagai 'dotard' dan Kim 'Little Rocket Man'.
Tapi Olimpiade Musim Dingin di Selatan pada Februari mengatalisasi gerakan diplomatik saat Presiden Korea Selatan Moon Jae-in berusaha menyatukan kedua belah pihak.
Kim telah bertemu dua kali dengan Moon dan Xi Jinping, Presiden Tiongkok, sekutu terpenting Korut.
Pyongyang telah mengambil beberapa langkah untuk menunjukkan ketulusan mereka yaitu dengan mengembalikan para tahanan AS dan meledakkan tempat uji coba nuklirnya.
Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan, pekan lalu, bahwa kemajuan sedang dibuat dalam membawa kedua belah pihak dalam satu pemahaman tentang denuklirisasi.
Tapi Trump membuat pengamat bingung ketika dia mengatakan dia tidak berpikir dia harus mempersiapkan sangat banyak untuk KTT.
"Ini tentang sikap," kata Trump. "Jadi ini bukan masalah persiapan." (AFP/OL-5)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved