Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
SETIAP beberapa menit, sekelompok pengunjung baru tiba di Tempat Pembalasan Dendam di Museum Sinchon Korea Utara. Di sini rezim mempropagandakan bahwa pasukan Amerika Serikat (AS) telah membantai lebih dari 35 ribu orang selama Perang Korea.
Seorang sukarelawan di dalam kelompok itu, bisa dari sekolah, unit tentara, pabrik atau organisasi resmi, berdiri di ampiteater di mana terdapat mural berbunyi 'Mari kita mengusir orang Amerika dan menyatukan kembali bangsa kita'. Mural ini mengecam keras AS.
Pada museum ini digambarkan pasukan AS melakukan kekejaman di daerah itu. Tangan mereka berbonggol dan terpuntir saat menancapkan paku ke kepala korban, menghancurkan kepala mereka sampai mati, serta memotong payudara wanita.
Orang Amerika, kata pemandu Ri Kum Ju, bahkan terlibat dalam kanibalisme.
"Mereka membunuh orang secara individual dengan cara brutal di luar imajinasi manusia, termasuk menarik bola mata, membakar seluruh tubuh dengan besi panas atau memotong potongan daging dan memakannya dengan garam."
Ada satu masalah mendasar dengan narasi ini, tentang apa yang terjadi di Sinchon pada musim gugur 1950--rincian yang tepat termasuk korban sebenarnya hilang karena kekacauan konflik. Peneliti independen mengatakan tidak ada bukti bahwa hal itu dilakukan oleh AS.
Menjadi oposisi Amerika Serikat adalah landasan fundamental dari Republik Rakyat Demokratik Korea. Pyongyang mengatakan persenjataan nuklir yang telah dikembangkan selama beberapa dekade, berimplikasi terhadap penjatuhan sanksi, dan isolasi sebagai akibatnya, adalah untuk mempertahankan diri dari kemungkinan invasi AS.
Itu berarti KTT Singapura minggu depan antara pemimpin Kim Jong Un dan Presiden AS Donald Trump--di mana persenjataan (nuklir) Korea Utara akan menjadi agenda utama-- mencuatkan teka-teki: apakah dapat berdamai dengan musuh dan merusak klaim terhadap legitimasi pemerintah selama ini?
Hak Dinasti Kim untuk memerintah didapat karena peran Kim Il Sung dalam perjuangan abad ke-20 melawan pemerintah kolonial Jepang. Menurut ortodoksi, misi bersejarah itu terputus ketika AS dan Uni Soviet membagi semenanjung di antara mereka setelah Tokyo menyerah mengakhiri Perang Dunia Kedua.
Upaya Korut untuk menyatukannya kembali dengan kekuatan saat invasi 1950 digagalkan lagi oleh koalisi PBB yang dipimpin AS.
Fitnah terhadap AS dan Jepang, berlanjut di Utara. Mulai dari buku dan film di pusat pendidikan di Pyongyang dan di seluruh negeri, termasuk di museum pusat di Sinchon yang dikunjungi 500 ribu orang per tahun. (AFP/OL-5)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved