Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

Dunia Berusaha Selamatkan Kesepakatan Nuklir Iran

Irene Harty
10/5/2018 14:07
Dunia Berusaha Selamatkan Kesepakatan Nuklir Iran
(AFP PHOTO / Iranian Supreme Leader's Website)

NEGARA-negara di dunia berusaha menyelamatkan kesepakatan nuklir dengan Iran setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump menghadapi isolasi diplomatik pada Rabu (9/5), setelah menarik diri dari kesepakatan pada 2015 itu.

Keputusan Trump untuk menarik diri dari perjanjian itu dan menerapkan kembali sanksi terhadap republik Islam itu mengancam diplomasi. Hal itu juga dapat memperburuk ketidakstabilan di Timur Tengah serta mengancam bisnis di Iran senilai miliaran dolar.

Sebelum penarikan diri AS dari kesepakatan yang berjalan lebih dari satu dekade, Trump menyerukan kesepakatan baru dan abadi, karena kesepakatan yang disepakati era Obama itu dinilainya memalukan.

Trump mengatakan kesepakatan dengan Iran harus memasukkan, tidak hanya pembatasan lebih dalam pada program nuklirnya, tapi juga pada rudal balistik dan dukungannya untuk kelompok militan di Timur Tengah.

Iran bereaksi marah terhadap langkah itu dengan anggota parlemen membakar bendera AS dan meneriakkan 'Death to America'. Iran selalu menyangkal mencari senjata nuklir, bersikeras program atomnya adalah untuk tujuan sipil.

Tiongkok, penandatangan kesepakatan yang termasuk mitra dagang utama selain Eropa, berjanji akan bekerja untuk menegakkan kesepakatan tersebut.

Tiongkok bersikeras akan mempertahankan pertukaran ekonomi dan perdagangan normal dengan Teheran dan terus mengabdikan diri untuk menjaga dan melaksanakan kesepakatan.

Namun badan pengawas nuklir PBB, yang bertugas memastikan Iran tunduk pada syarat-syarat kesepakatan itu, mengatakan Iran menjunjung tinggi komitmen terkait nuklir dengan Inggris, Tiongkok, Prancis, Jerman, Rusia, dan AS.

"Iran tunduk pada rezim verifikasi nuklir paling kuat di dunia," kata Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Yukiya Amano.

Sebagai tanggapan, Rouhani memperingatkan Iran bisa melanjutkan pengayaan uranium tanpa batas namun akan membahas tanggapannya dengan pihak-pihak lain dalam kesepakatan itu sebelum mengumumkan keputusan.

Sementara itu, saingan regional Teheran, Arab Saudi dan Israel memuji keputusan Trump untuk menarik Washington keluar dari kesepakatan.

Hal ini memicu kekhawatiran perlombaan senjata Timur Tengah. Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel al-Jubeir mengatakan kerajaan akan mengejar senjata nuklirnya sendiri jika Iran melanjutkan pengembangan senjata nuklir.


Pukulan untuk Eropa
Keputusan Trump menandai kekalahan diplomatik yang tajam bagi Eropa, yang para pemimpinnya mendesak presiden AS untuk berpikir lagi.

Sebelumnya Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan penandatangan Eropa akan melakukan segalanya untuk memastikan parameter perjanjian tetap di tempat.

Janji itu datang saat Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengatakan kepada Iran bahwa mereka juga harus menghentikan kesepakatan nuklir kecuali Eropa menawarkan jaminan kuat hubungan perdagangan akan terus berlanjut.

Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Presiden Iran Hassan Rouhani sepakat untuk bekerja sama menuju implementasi berkesinambungan setelah keputusan AS.

"Keputusan Eropa memungkinkan kami mencegah Iran untuk segera memulai kembali kegiatan (nuklir) mereka dan untuk menghindari meningkatnya ketegangan," kata Macron.

Menteri Pertahanan AS, Jim Mattis bersikeras bahwa AS akan terus bekerja dengan sekutu-sekutunya untuk mencegah Iran mendapatkan senjata nuklir.

"Kami akan terus bekerja bersama sekutu dan mitra kami untuk memastikan bahwa Iran tidak pernah dapat memperoleh senjata nuklir, dan akan bekerja dengan pihak lain untuk mengatasi berbagai pengaruh jahat Iran," kata Mattis pada panel Senat.

Pemerintahan Trump juga menyatakan perusahaan-perusahaan Eropa yang melakukan bisnis di Iran memiliki tenggat waktu enam bulan untuk mengakhiri investasi atau berisiko terkena sanksi AS.

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan mengatakan AS pada akhirnya akan kalah dari keputusannya, sementara Rusia Vladimir Putin menyatakan keprihatinan mendalam negaranya atas penarikan AS. (AFP/OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Anata
Berita Lainnya