Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
SEORANG pejabat dari sebuah LSM hak asasi manusia telah mengungkapkan bahwa sekelompok perempuan Indonesia dan Malaysia yang terkait dengan negara Islam (IS) ditahan oleh pasukan Kurdi di Suriah.
Sejauh ini, kelompok tersebut berjumlah setidaknya 15 keluarga yang berasal dari Indonesia dan satu wanita Malaysia. Menurut pejabat tersebut, banyak dari mereka ditahan bersama anak-anak mereka.
Surat kabar Jerman Die Welt melaporkan pada awal Februari, sekitar 800 wanita asing yang bergabung dengan kelompok militan IS bersama anak-anak mereka telah ditahan oleh pasukan Kurdi yang didukung AS di Suriah utara.
Harian Jerman tersebut mewawancarai Direktur Program Terorisme dan Kontraterorisme Human Rights Watch Nadim Houry, yang berbicara dengan banyak wanita saat melakukan kunjungan ke beberapa kamp penahanan di daerah yang dikuasai Kurdi bulan lalu.
"Saya tahu bahwa ada orang Indonesia, setidaknya 15 keluarga. Saya tidak melihat orang Malaysia, tapi saya diberitahu ada satu keluarga," kata Houry kepada FMT melalui email.
Houry mengatakan bahwa Indonesia adalah satu dari sedikit negara yang membawa beberapa keluarga kembali pada 2017.
"Negara lain yang telah mengambil beberapa warga negaranya kembali adalah Rusia. Tapi masih ada beberapa (sisa)," katanya, seraya menambahkan bahwa dia belum sempat berbicara kepada mereka sebanyak ini.
Surat kabar Jerman mengutipnya mengatakan bahwa 800 wanita dan anak-anak mereka berada di empat kamp. Mereka berasal dari sekitar 40 negara. Ada wanita dari Kanada, Prancis, Inggris, Tunisia, Yaman, Turki dan Australia. Termasuk ada juga 15 orang dari Jerman.
Houry menambahkan, mereka juga ditahan terpisah dari pejuang IS yang tertangkap. Beberapa wanita yang dia wawancarai mengatakan bahwa mereka dipukuli dan dipermalukan selama interogasi dan dipaksa tinggal dalam kondisi tidak higienis dengan bayi mereka.
"Wanita-wanita ini berada dalam situasi yang sangat sulit. Bagi anak-anak kecil, terutama, keadaannya sama sekali tidak baik," kata Houry.
Pakar terorisme tersebut mengatakan bahwa para wanita tersebut ingin kembali ke rumah dan bersedia menghadapi tuntutan pidana di negara asal mereka.
"Beberapa wanita ingin setidaknya mengirim anak-anak mereka ke rumah, dan saya pikir pemerintah Eropa harus mengizinkan anak-anak itu kembali ke negara mereka," tutur Houry.
"Anak-anak tidak melakukan kejahatan apapun. Mereka adalah korban perang, dan seringkali karena orang tua mereka yang radikal," katanya.
Pawel Wójcik, seorang analis terorisme Asia Tenggara untuk situs informasi terkini Polandia mPolska24, mengatakan ada puluhan keluarga dari wilayah tersebut yang masih berada dalam tahanan Pasukan Demokratik Suriah dan YPG (Unit Perlindungan Rakyat milisi Kurdi).
"Kurdi terbuka untuk negosiasi dengan pemerintah untuk pemulangan warganya. Keluarga yang tinggal di tahanan Irak memiliki lebih sedikit pilihan karena orang Irak lebih cenderung untuk menuntut atau melaksanakannya," ujar Wójcik. (Free Malaysia Today/X-12)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved