Headline
Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.
Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.
Kumpulan Berita DPR RI
MAHASISWI Suriah di Universitas Damaskus, Nour, 30 terlihat sedih saat menatap jari manisnya yang kosong lalu melihat para perempuan di sekelilingnya.
Nour mengungkapkan keinginannya untuk menikah begitu besar tetapi konflik Suriah membuat calon-calon pasangan potensial berimigrasi, bergabung dengan tentara, atau kehilangan nyawa mereka.
"Saya berharap cincin kawin akan menghiasi jari ini suatu hari nanti. Tapi tidak ada lagi pria muda di sini, mereka semua pergi bertahun-tahun yang lalu, saya melihat penurunan (kemungkinan menikah) dari tahun ke tahun," tuturnya seperti dikutip dari kantor berita AFP, Senin (19/2)
Konflik Suriah meletus pada 2011 di saat Nour bersiap untuk lulus mendapat gelar pertamanya di bidang ekonomi. Untuk mengisi waktu, Nour memilih melanjutkan gelar keduanya di Universitas Damaskus dalam bidang sastra.
"Saya tidak punya seseorang untuk mengisi waktu. Tidak ada teman, tidak ada kekasih, tidak punya suami. Saya takut akan menemukan uban sebelum saya menikah. Saya pasti akan kehilangan semua harapan pada saat itu," keluhnya sambil menarik rambut pirangnya.
Di masyarakat Suriah yang konservatif, pada umumnya perempuan akan menikah pada usia 20-an. namun kecenderungan itu berubah karena populasi laki-laki yang terus menurun.
"Sekarang, perempuan dapat menikah pada usia 32 tahun tanpa ada anggapan terlambat menikah," kata Salam Qassem, profesor psikologi di Damaskus.
Lebih dari 340.000 orang tewas dalam perang Suriah, dan ribuan orang telah ditempatkan di barisan depan jauh dari rumah.
Dari populasi praperang di negara itu yang berjumlah 23 juta, lebih dari lima juta telah meninggalkan negara tersebut dan lebih banyak yang mengungsi.
"Tetangga dulu mengenal satu sama lain di masa lalu, atau bisa saling mengenal dengan mudah Tapi hari ini, keluarga-keluarga tersebar di semua tempat," katanya.
Beberapa orang Suriah secara kreatif menghindari hambatan tersebut dengan 'pernikahan Skype'. Para pengantin perempuan dan pengantin laki-laki di berbagai provinsi atau negara memberi wewenang kepada pihak ketiga untuk menandatangani surat nikah saat mereka bertukar sumpah secara daring.
Yusra, 31, yang masih sendiri mengatakan orang tuanya khawatir dia akan 'ketinggalan kereta' untuk menikah.
"Saya tidak ingin kamu menjadi perawan tua, kata ibu saya. Dia meminta saya melihat sekeliling dan berhati-hati memilih," tuturnya.
Yusra menambahkan, beberapa laki-laki berimigrasi karena mempertimbangkan finansial sebelum menikah di tengah perang yang memperluas keretakan sektarian di masyarakat.
Perang memang telah menyebabkan inflasi melonjak, tingkat pengangguran meluas, dan kerugian ekonomi yang diperkirakan mencapai lebih dari US$225 miliar.
"Meningkatnya biaya hidup dan faktor keuangan lainnya membuat menikah tidak mungkin," kata Firas, 37 yang menganggap menikah saat ini adalah kegilaan.
Mahasiswa Kedokteran, Munzer Kallas, 26 juga sependapat dan memilih mengikuti saudara laki-lakinya ke Jerman. (X-12)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved