Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Australia Gelontorkan Rp41,8 Triliun Untuk Tingkatkan Ekspor Senjata

MICOM
30/1/2018 14:56
Australia Gelontorkan Rp41,8 Triliun Untuk Tingkatkan Ekspor Senjata
(AFP)

PERDANA Menteri Australia Malcolm Turnbull pemerintahannya menyediakan dana pinjaman sebesar Rp41,8 triliun kepada pelaku industri persenjataan di Australia untuk menjadi salahsatu dari 10 eksportir senjata terdepan di dunia.

Pada 2016, pemerintah Australia mengatakan akan meningkatkan belanja pertahanan sebesar Rp328 triliun pada 2021, dengan pembelian fregat, kendaraan lapis baja pengangkut pasukan, jet tempur, pesawat nirawak dan armada baru kapal selam.

Selama ini industri pertahanan di Negeri Kanguru itu berjuang mendapatkan pembiayaan dari pemodal tradisional, yang jarang bersedia mendanai industri persenjataan. Dari situ Australia menciptakan skema pinjaman senilai Rp41,8 triliun untuk perusahaan pencari pembiayaan ekspor.

"Australia berada di sekitar eksportir terbesar ke 20. Dengan ukuran anggaran pertahanan kami, seharusnya kami berada di posisi lebih tinggi dari itu. Tujuan kita adalah masuk ke 10 besar," kata Turnbull kepada wartawan di Sydney.

Menteri Industri Pertahanan Australia Christopher Pyne menambahkan negaranya akan menargetkan penjualan senjata ke Amerika Serikat, Kanada, Inggris dan Selandia Baru. Anggaran pertahanan tahunan Australia sendiri tahun ini bernilai sekitar Rp388 triliun.

Skema ini juga dimaksudkan untuk menangkap peluang di sektor manufaktur Australia dan memberikan dukungan bagi ekonominya, yang telah terhambat oleh pertumbuhan upah yang rendah.

Australia mencetak rekor jumlah pekerjaan yang diciptakan pada 2017, namun sektor manufakturnya telah menyusut secara signifikan setelah berakhirnya manufaktur mobil domestik.

Pekerjaan di bidang manufaktur mencapai puncaknya pada pertengahan tahun 1989 dengan sekitar 1,17 juta pekerja atau 15 persen dari keseluruhan angkatan kerja. Kini telah menyusut menjadi 877.000 pekerja atau tujuh persen pada akhir tahun lalu.

Australia telah melihat gelombang pekerjaan baru namun perusahaan tidak tertarik untuk membayar karyawan lebih banyak, membiarkan pertumbuhan upah mendekati rekor terendah.

Rencana ekspansi Australia datang di tengah meningkatnya permintaan global akan perangkat keras militer yang memicu kritik terhadap Canberra dari badan-badan bantuan yang berpendapat bahwa Australia dapat membuat pelanggaran hak asasi manusia lebih buruk lagi jika menjual senjata kepada pihak yang salah.

Pengamat mengatakan Australia perlu memperluas penjualan melampaui mitra tradisionalnya secara signifikan untuk memenuhi ambisinya. "Ada kemungkinan, tapi saya ragu minat AS terutama akan melampaui kemampuan ceruk itu," kata Euan Graham, Direktur Program Keamanan Internasional di Australia Lowy Institute.(Reuters/Ant/OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya