Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Parlemen Serukan ASEAN Tangani Rohingya

MICOM
25/1/2018 16:14
Parlemen Serukan ASEAN Tangani Rohingya
(AFP PHOTO / Munir UZ ZAMAN)

ANGGOTA parlemen ASEAN yang tengah menyelesaikan misi pencarian fakta menekankan perlunya tindakan regional lebih besar sebagai upaya untuk menyelesaikan krisis kemanusiaan Rohingya di Myanmar.

Seruan tersebut disampaikan oleh Anggota Parlemen ASEAN untuk Hak Asasi Manusia (APHR), sebuah perkumpulan anggota parlemen di wilayah Asia Tenggara, pada Rabu (24/1), yang tengah melakukan pertemuan di Dhaka, Bangladesh, 21-24 Januari.

Pertemuan di Cox's Bazar tersebut mencakup pertemuan dengan para pengungsi, aktor kemanusiaan, anggota parlemen, dan pejabat pemerintahan.

"Dimana ASEAN? Inilah pertanyaan yang terus kami dengar dari setiap orang yang kami temui," kata Ketua APHR Charles Santiago, anggota Parlemen Malaysia, yang memimpin delegasi tersebut.

Dia mengatakan ASEAN sebagai blok regional harus memainkan peran utama dalam menyelesaikan krisis ini. "Sebagai wakil rakyat Asean, kita berada di Dhaka untuk menuntut agar pemerintah kita untuk dapat segera beraksi. Oleh karena itu, kami meminta Asean untuk mengadakan pertemuan mendesak para menteri luar negeri dari semua negara anggota untuk membahas krisis tersebut dan membuat rencana tindakan untuk mengatasinya," katanya.

Mantan anggota parlemen dari Thailand, Rachada Dhnadirek mengatakan negara-negara Asean harus berhenti menggunakan prinsip tidak campur tangan (noninterference) sebagai alasan untuk tidak bertindak.

"Ini telah menjadi isu lama yang mempengaruhi seluruh wilayah, dan Asean perlu mengambil tindakan konkret dan kolektif untuk menghadapinya secara langsung. Komitmen finansial untuk mendukung bantuan kemanusiaan sangat penting, namun harus disertai dengan tekanan ke militer Myanmar untuk mengakhiri penganiayaan yang berada di akar krisis," ujarnya.

Pada 22 Januari delegasi APHR mengunjungi kemah pengungsian Kutupalong dan Balukhali, tempat ratusan ribu orang Rohingya telah menetap sejak Agustus 2017, bergabung dengan orang lain yang melarikan diri dari gelombang penganiayaan dan kekerasan oleh militer Myanmar di negara bagian Rakhine di Myanmar.

Anggota- anggota parlemen berbicara dengan para pengungsi tentang pengalaman mereka di Myanmar, juga tentang situasi mereka saat ini, kekhawatiran, dan harapan mereka di masa datang.

"Cerita yang kami dengar langsung dari pengungsi Rohingya sangat memilukan, dari orang tua yang menyaksikan anak-anak mereka terbunuh hingga anak-anak yang terluka parah," kata Louis Ng, anggota Parlemen Singapura.

Kunjungan delegasi tersebut bertepatan dengan tanggal mulai mengumumkan untuk repatriasi pengungsi, berdasarkan sebuah kesepakatan bilateral antara pemerintah Bangladesh dan Myanmar yang ditandatangani pada November 2017.

Pada 16 Januari 2018 sebuah kelompok kerja yang dibentuk oleh kedua pemerintah sepakat untuk melakukan repatriasi dalam jangka waktu dua tahun, dengan pengembalian awal yang akan dimulai Minggu ini.

Namun pada 22 Januari para pejabat Bangladesh mengumumkan bahwa pemulangan tidak akan dimulai sesuai jadwal.

Pada 23 Januari anggota parlemen Asean bertemu dengan rekan-rekannya di Parlemen Bangladesh, termasuk Ketua Shirin Sharmin Chaudhury. Anggota parlemen membahas apa yang dapat dilakukan oleh Asean dan anggota-anggota negara ASEAN untuk mendukung upaya penyelesaian krisis, termasuk dalam menekan Myanmar.(Ant/OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya