Headline
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Kumpulan Berita DPR RI
KEMENTERIAN luar negeri Meksiko mengulangi pernyataannya bahwa negara tersebut tidak akan membayar pembangunan tembok di sepanjang perbatasan selatan Amerika Serikat dalam keadaan apapun. Penegasan itu disampaikan menyusul serangkaian kicauan Presiden Donald Trump yang mengatakan bahwa Meksikio adalah negara nomor satu paling berbahaya di dunia.
Kemenlu Meksiko juga mengritik pernyataan Trump yang disampaikan pada Kamis (18/1) pagi di Twitter tersebut. "Meskipun Meksiko memiliki masalah pelik dengan kekerasan, jelas tidak benar bahwa Meksiko adalah negara paling berbahaya di dunia," demikian pernyataan Kemenlu Meksiko.
Dengan melihat ke depan untuk pembicaraan terakhir guna membahas kembali Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA) pada akhir bulan ini, Meksiko juga menegaskan bahwa akan meletakkan kepentingan nasionalnya lebih dahulu sambil mencari hasil, yang menguntungkan semua negara dalam perjanjian tersebut.
Sebelumnya, tanggapan kasar, yang dikeluarkan Presiden AS Donald Trump, juga menyulut kemarahan di seluruh Afrika. Trump dilaporkan menggunakan kata kasar untuk menggambarkan negara Afrika, Haiti dan El Salvador saat membahas masalah imigran dengan anggota parlemen AS pada Kamis (11/1).
Ketika berbicara dengan Xinhua, peneliti senior di Kajian Strategis Hubungan Luar Negeri Ethiopia (EFRSS), kelompok pemikir setempat, mengatakan komentar-komentar seperti itu akan semakin mengikis pengaruh AS di kancah global.
Trump mengeluarkan satu pernyataan sehari setelahnya yang membantah
kata-kata kasar yang dilaporkan disampaikannya, meskipun ia mengaku bahwa
ia menggunakan bahasa yang keras.
Pernyataan yang diduga diucapkan Trump telah mengakibatkan kemarahan di seluruh dunia dan para pejabat di negara Afrika, Eropa, dan Amerika Latin serta PBB menyampaikan pengutukan serta memanggil diplomat AS untuk
mengajukan protes.
Ayene mengatakan kata-kata tak diplomatis yang digunakan oleh Presiden AS tersebut yang mengejutkan masyarakat diplomatik di seluruh dunia tampaknya akan memiliki dampak jangka-panjang.
Uni Afrika (AU) mengeluarkan pernyataan yang menyebut pernyataan yang disampaikan Trump 'membuat geram dan menyakitkan.
"Meskipun menyampaikan keterkejutan, kecemasan dan kemarahan, Uni Afrika sangat percaya ada salah pengertian yang sangat besar mengenai Benua Afrika dan rakyatnya oleh pemerintah saat ini. Ada keperluan serius bagi dialog antara Pemerintah AS dan negara Afrika," kata pernyataan AU.
Pernyataan tersebut juga menyeru Presiden AS agar mengeluarkan permintaan maaf bagi pernyataan yang menyakitkan bukan hanya buat rakyat Afrika tapi juga untuk seluruh dunia.
"Uni Afrika mengutuk pernyataan itu dengan sekeras-kerasnya dan menuntut pencabutan komentar tersebut serta permintaan ma'af bukan hanya buat rakyat Afrika tapi juga kepada seluruh orang keturunan Afrika di seluruh dunia," tambah pernyataan AU tersebut.
Namun, karena menyadari AS masih menjadi kekuatan ekonomi dan militer tangguh, pernyataan AU itu menyerukan kemitraan strategis yang berlanjut dengan AS.(Ant/OL-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved