Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Abbas Kecam Rencana Perdamaian Trump di Timteng

MICOM
15/1/2018 15:56
Abbas Kecam Rencana Perdamaian Trump di Timteng
(AFP)

PRESIDEN Palestina Mahmoud Abbas mengecam rancangan perdamaian di Timur Tengah yang diusulkan oleh Presiden AS Donald Trump. Rancangan perdamaian yang tidak menempatkan Palestina dalam negosiasi itu, oleh Abbas disebut sebagai 'tamparan di muka'.

Abbas mengatakan hal itu di hadapan anggota Dewan Sentral Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), yang bertemu di Kota Ramallah di Tepi Barat Sungai Jordan selama dua hari. "Bahwa rancangan yang disebut sebagai "kesepatan abad ini" dari Trump adalah "tamparan di muka (Palestina)".

Da menambahkan seluruh elemen Palestina akan membalas tamparan AS tersebu. Untuk diketahui, Dewan Sentral mengadakan pertemuan dua hari untuk menghasilkan keputusan strategis mengenai proses perdamaian, hubungan dengan Israel dan membahas pengumuman Trump pada Desember lalu yang mengakui Jerusalem sebagai Ibu Kota Israel.

"Jerusalem dihilangkan dari meja oleh satu twit Trump," kata Abbas. Ia menambahkan bahwa "status Jerusalem seperti Makkah. Tak ada yang lebih
penting dari Jerusalem".

Konflik Palestina-Israel tentang Jerusalem terus meruncing karena Palestina menganggap Jerusalem Timur, yang diduduki oleh Israel selama Perang Arab-Israel pada 1967, sebagai ibu kota negara merdekat masa depan mereka.

Sedangkan Israel mengumumkan Jerusalem yang utuh sebagai ibu
kotanya yang abadi.

"Kita katakan tidak untuk apa yang bertentangan dengan nasib kita, masa
depan kita atau masalah kita atau rakyat kita ... Tidak dan ribuan Tidak
dan sekarang kita katakan kepada Trump Tidak dan Tidak dan kita beritahu
Trump 'kesepakatan abad ini' adalah 'tamparan pada abad ini'," kata Abbas.

Dia pun menekankan, "Palestina takkan meninggalkan atau membuat atau mengulangi kekeliruan pada masa lalu." Ia menambahkan, "Ini adalah saat yang
menentukan yang menyeru setiap orang Palestina agar segera bangkit untuk
mempertahankan nasib ibu kota yang abadi."

Pada kesempatan itu, Abbas juga menyesalkan keputusan Gerakan Perlawanan Islam (HAMAS) dan Jihad Islam karena memboikot pertemuan Dewan Sentral PLO tersebut.

Kedua kelompok gerilyawan Palestina itu menyatakan mereka memutuskan untuk tidak bergabung dalam pertemuan tersebut sebab itu tidak diselenggarakan di salah satu negara Arab.

"Sangat mengganggu saya bahwa saudara kita mengatakan pada saat terakhir
bahwa mereka takkan hadir sebab tempat pertemuan tidak layak. Di mana kah
tempat di mata mereka untuk membuat keputusan yang menentukan secara
bebas," Abbas mempertanyakan.

Ia juga mengatakan, "Saya mungkin tak menyalahkan Jihad Islam sebab mereka tak bergerak di bidang politik, tapi apa yang mengganggu saya ialah saudara kita di HAMAS."

Ketua Dewan Salim Za'noon sebelumnya mengatakan bahwa "Amerika Seriktat bukan lagi penengah dalam proses perdamaian setelah pengumumannya mengenai Jerusalem".

Ia menyatakan bahwa "setiap gagasan yang disodorkan dengan nama 'kesepakatan abad ini' harus ditolak. "Kita harus menegaskan kembali hak rakyat kita untuk melawan pendudukan dengan segala cara yang sah dan membuat biayanya besar. Dewan Nasional Palestina (PNC) mesti dipandang sebagai Dewan Legislatif Palestina," pungkas dia.(Ant/OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya