Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Melabuhkan Harapan di Pohon Natal Suriah

19/12/2017 06:30
Melabuhkan Harapan di Pohon Natal Suriah
(AFP/YOUSSEF KARWASHAN)

Di sebuah kedai kopi yang nyaman di Damaskus, Suriah, seorang mahasiswi, Solaf Hammoud, 25, menuliskan harapannya di tahun baru pada kartu kuning sebelum menggantungnya di pohon natal yang berkilauan.

Banyak harapan memang menghiasi pohon natal itu selain serangkaian lampu sederhana dan puluhan kertas kotak berwarna berisi harapan dan doa rakyat Damaskus, yang lelah menghadapi konflik.

“Saya harap semua teman pengungsi saya kembali sesegera mungkin,” tulis Hammoud.

Dia sendiri tidak memiliki banyak harapan baru di tahun ini selain sangat ingin memulai program media dan studinya sendiri di Paris, Prancis. “Semua impian masa kecilku masih ada di kepalaku,” kata perempuan berambut panjang dan gelap itu.

“Setiap tahun saya berdiri di depan pohon dan berharap untuk mereka lagi. Mungkin akan menjadi kenyataan suatu hari nanti, tapi yang terpenting ialah kami masih memiliki harapan. Kami terus berusaha sampai menjadi kenyataan,” tuturnya.

Suriah memang didominasi muslim, namun banyak rakyat negeri itu yang merayakan Natal.

Kedai kopi Zeriab yang diterangi cahaya lilin penuh dengan pemuda Suriah yang menikmati minuman hangat dan mengobrol diiringi alunan lembut lagu jazz.

Saat pelanggan masuk, mereka mengagumi pohon itu dan memotret sebelum menuliskan keinginan mereka sendiri pada potongan kertas merah dan merah muda.

‘Saya ingin melakukan perjalanan. Itu saja.’

‘Saya berharap bisa menemukan gadis yang ada di pikiran saya.’

Beragam permintaan dari yang menyenangkan hingga menyakitkan seperti lelah dengan perang atau keinginan menghindari wajib militer dua tahun di Suriah.

Lebih dari 340.000 orang terbunuh di Suriah sejak Maret 2011, hampir tujuh tahun, dan lebih dari lima juta orang melarikan diri ke luar negeri sebagai pengungsi.

‘Tuhan, tunda wajib militer. Oh, Tuhan, oh Tuhan.’

“Keinginan kita menjadi sangat aneh, kita ingin tidak terluka atau kita pergi dari rumah dan kembali dengan selamat,” kata Mohammad Sharaf, 22.

“Orang lain mungkin berharap bisa tinggal di rumah saja dan tidak harus pergi ... atau terus belajar di universitas tanpa masalah,” lanjutnya.

Bernard Jumaa, 39, pemilik Zeriab dan mengakui tradisi pohon natal ada sejak tiga tahun setelah konflik Suriah dimulai. Jumaa melihat doa yang sama bertahun-tahun.

“Liburan berhenti di sini untuk semua orang, tapi kita semua berharap perang akan berakhir dan keadaan kembali seperti semula. Inilah awal ide pohon natal menjadi pohon harapan,” sahutnya. (AFP/Irene Harty/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya