Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Daripada IS, Teroris Dalam Negeri Lebih Berbahaya

18/12/2017 12:00
Daripada IS, Teroris Dalam Negeri Lebih Berbahaya
()

PARA petempur yang kembali setelah bergabung dengan kelompok Islamic State (IS) masih menjadi ancaman besar bagi negara-negara Eropa dan Amerika Serikat (AS).

Namun, ancaman yang paling berbahaya justru berasal dari orang-orang yang tinggal dan diradikalisasi di dalam negeri mereka.

Sekalipun tidak memiliki pengalaman di medan perang, mereka yang memutuskan untuk melakukan serangan individu, seperti yang baru-baru ini terjadi di New York atas nama kelompok IS atau Al-Qaeda, nyaris tidak terdeteksi.

"Di Prancis, AS, atau di tempat lain, hampir tidak ada lagi serangan besar yang direncanakan dari luar seperti serangan pada 13 November 2015 di Paris," kata Marc Sageman, mantan agen CIA dan pakar terorisme, merujuk pada operasi IS yang menewaskan 130 orang.

"Sejak saat itu, penyerang di sini atau di Eropa belum dipandu IS, tetapi bertindak sendiri dengan membayangkan diri mereka sebagai seorang tentara Islam yang mereka ingin bela atau balaskan dendamnya," papar Sageman.

Baik Akayed Ullah, imigran Bangladesh yang mencoba meledakkan sebuah stasiun kereta bawah tanah New York pekan lalu, yang hanya melukai dirinya sendiri, atau Sayfullo Saipov, seorang keturunan Uzbekistan yang menabrak orang-orang di jalur sepeda New York pada 31 Oktober lalu dan menewaskan delapan orang, terbukti sama-sama tidak melakukan kontak dengan kelompok IS.

Mereka hanya menonton propaganda kelompok itu melalui video.

Para pakar mengatakan penyerang radikal individu semacam itu yang sama sekali tidak dikenal penguasa merupakan ancaman utama yang dihadapi negara saat ini.

"Serangan di negara ini dilakukan orang-orang yang telah berada di negara ini selama bertahun-tahun. Bahaya sesungguhnya ialah serangan-serangan yang tidak canggih tapi mematikan seperti yang kita saksikan belum lama ini di New York," ujar Albert Ford, peneliti lembaga kajian New America.

Menurut data New America, 85% dari 415 orang yang dituduh melakukan kejahatan terkait dengan Islam di AS sejak serangan 11 September 2001 ialah warga negara AS.

Dari mereka, 207 lahir di AS.

Mereka juga diketahui tidak melakukan pelanggaran hukum, hanya seperempat yang memiliki catatan polisi. (AFP/Arv/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya