Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Jerman Tidak Mau Lagi Politik Internasionalnya Bergantung AS

MICOM
06/12/2017 15:56
Jerman Tidak Mau Lagi Politik Internasionalnya Bergantung AS
(AFP)

KEPEMIMPINAN Presiden AS Donald Trump yang sering melontarkan pernyataan-peryataan tak terukur, termasuk kepada negara sekutunya, mulai mendapat reaksi keras. Trump dinilai oleh warga Jerman sebagai ancaman lebih serius bagi Jerman dibanding Korea Utara, Rusia atau Turki.

Menteri Luar Negeri Jerman Sigmar Gabriel mengatakan Jerman harus lebih tegas dan mandiri dalam merumuskan politik luar negerinya berdasarkan atas kepentingan nasional.

Hubungan dekat Berlin dengan Washington merenggang sejak Donald Trump menjabat Presiden Amerika Serikat pada Januari. Trump kini berbeda pendapat dengan Jerman terkait persoalan Iran dan Korea Utara.

Trump secara terus terang juga dengan lantang menyesalkan defisit perdagangan negaranya dengan Jerman, menuding Berlin berutang banyak kepada NATO, serta memicu kekhawatiran saat memutuskan keluar dari perjanjian iklim Paris.

"Pandangan umum bahwa Amerika Serikat berperang sebagai pelindung dunia sudah mulai "hancur", kata Gabriel di depan sejumlah politisi dan pejabat pemerintahan dalam acara di Koerber Foundation.

"Kemunduran peran internasional Amerika Serikat ini bukan hanya kebijakan satu presiden. Kecenderungan itu tidak akan berubah drastis setelah pemilihan umum di Amerika Serikat selanjutnya," kata dia.

Jerman memang harus terus memupuk hubungan baik dengan Amerika Serikat sebagai sekutu dagang, namun harus lebih mandiri dalam memperjuangkan kepentingan nasionalnya saat kedua negara berbeda pandangan.

Gabriel kemudian mencontohkan sanksi untuk Rusia yang dijatuhkan oleh Amerika Serikat, yang berdampak pada berkurangnya suplai energi ke Jerman--mengingat sanksi tersebut juga menyasar pipa gas milik Rusia yang mengalir ke Eropa.

Gabriel juga menentang batalnya perjanjian nuklir dengan Iran karena bisa meningkatkan resiko perang dan berdampak pada keamanan nasional. Dia juga menentang niat Amerika Serikat untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota
Israel.

"Jerman tidak bisa terus-menerus bergantung pada Washington, atau hanya bereaksi terhadap keputusan mereka. Kita harus mulai merumuskan posisi kita sendiri, dan menjelaskan pada para sekutu di mana batas solidaritas," kata
Gabriel.

Menurut jajak pendapat disiarkan Koerber Foundation, warga Jerman lebih menilai Donald Trump sebagai ancaman lebih besar bagi Jerman ketimbang pemimpin Korea Utara, Rusia, atau Turki.

Sejak Perang Dunia II berakhir, Jerman biasanya sangat berhati-hati dalam menjalankan politik luar negeri dan menyesuaikannya dengan aturan Uni Eropa. Namun seiring berjalannya waktu, negara tersebut kini lebih aktif berperan dalam masalah global sepanjang satu dekade terakhir.

Gabriel, yang berasal dari Partai Sosial Demokrat, mengatakan akan berunding dengan Kanselir Anglea Merkel untuk membentuk pemerintahan Jerman masa bakti selanjutnya.(OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya