Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
PAUS Fransiskus menghabiskan hari pertamanya, Selasa (28/1) di Myanmar mengunjungi ibukota negara tersebut dan bertemu dengan pemimpin sipil Aung San Suu Kyi. Salah satu yang dibicarakan kedua pemimpin tersebut ialah krisis pengungsi etnis Rohingya akibat perlakukan tidak manusiawi junta militer Myanmar.
Pertemuan Paus dengan Suu Kyi dan otoritas Myanmar lainnya di Naypyitaw itu merupakan kunjungan paling dinanti-nanti banyak pihak mengingat protes keras atas tindakan keras militer Myanmar terhadap warga sipil muslim Rohingya. Bahkan pemerintah AS dan PBB pun telah menyebut tindakan pemerintah Myanmar tersebut sebagai kampanye "pembersihan etnis" untuk mengusir Rohingya dari negara bagian Rakhine bagian utara.
Dalam menghadapi tekanan internasional tersebut, sebelumnya para pemimpin Katolik Myanmar telah menekankan bahwa Suu Kyi tidak memiliki pengaruh untuk berbicara menentang militer selama operasi pembersihan etnis itu.
Umat Katolik yang merupakan minoritas di Myanmar juga telah mendesak Myanmar menuju masa depan yang lebih demokratis yang mencakup semua kelompok minoritas agama, khususnya umat Kristen.
Kehadiran Paus Fransiskus kali ini diharapkan bisa menjembatani kekhawatiran umat Katolik setempat dan berbicara tentang minoritas tertindas.
Di Yangon, Paus Fransiskus berbicara kepada para pemimpin antaragama di kediaman uskup agung dan bertemu secara terpisah dengan seorang pemimpin Buddhis yang menonjol namun kontroversial, Sitagu Sayadaw.
Paus menekankan sebuah pesan "kesatuan dalam keragaman" dalam pertemuan 40 menit dengan pemimpin Buddha, Hindu, Muslim, Kristen dan Yahudi dan mengatakan bahwa mereka harus bekerja sama untuk membangun kembali negara tersebut.
"Apabila ada perbedaan mereka harus berdebat seperti saudara laki-laki, yang mendamaikan sesudahnya," ujar juru bicara Greg Burke.
Dalam pertemuan dengan Biksu Sitagu Sayadaw, Burke mengungkapkan Paus selalu berusaha untuk mendorong perdamaian dan persaudaraan sebagai satu-satunya jalan masa depan.
Sebelumnya Biksu Sitagu juga pernah bertemu dengan pendahulu Fransiskus yakni Paus Benediktus XVI dan telah dikritik karena Myanmar tetap menerapkan hukuman etnis terhadap umat muslim, khususnya Rohingya. Apa yang terjadi di Myanmar ini sangat kontras dengan apa yang diraih pemimpin sipilnya, Suu Kyi yang mendapatkan penghargaan Nobel Perdamaian.
Kehadiran Paus Fransiskus ini juga dimanfaatkan untuk bertemu dengan komandan militer Myanmar yang bertanggung jawab atas tindak kekerasan terhadap etnis Rohingya yakni Jenderal Min Aung Hlaing, dan tiga anggota biro operasi khusus.
Vatikan tidak merinci isi kunjungan kehormatan selama 15 menit tersebut. "Mereka berbicara tentang tanggung jawab besar otoritas negara pada saat transisi ini," ujar Burke.
Kantor Jenderal Min Aung Hlaing mengatakan dalam sebuah pernyataan di Facebook bahwa dia bersedia memiliki "perdamaian antaragama, persatuan dan keadilan." Jenderal tersebut menambahkan bahwa tidak ada penganiayaan atau diskriminasi agama atau etnis di Myanmar, dan bahwa pemerintah mengizinkan kelompok agama yang berbeda untuk memiliki kebebasan beribadah.
Untuk diketahui muslim Rohingya telah lama menghadapi diskriminasi yang didukung negara di negara yang berpenduduk mayoritas beragama Budha itu.
Mereka dilucuti kewarganegaraannya pada 1982 dan meniadakan hampir semua hak dan membuat mereka tanpa kewarganegaraan. Warga muslim Rohingya tidak bisa bepergian dengan bebas, mempraktekkan agama mereka, atau bekerja sebagai guru atau dokter, dan mereka hanya memiliki sedikit akses terhadap perawatan medis, makanan atau pendidikan.
Gereja Katolik Myanmar secara terbuka telah mendesak Fransiskus untuk tidak mengatakan "Rohingya", sebuah istilah yang dijauhi oleh banyak orang di Myanmar karena kelompok etnis tersebut adalah minoritas yang tidak diakui di negara.
Gereja Katolik di Myanmar juga mendesak Fransiskus untuk secara halus dalam mengutuk kekerasan yang dilakukan pemerintah Myanmar mengingat potensi yang sama bisa terjadi terhadap komunitas kecil Katolik di Myanmar.
Burke tidak mengatakan apakah Paus Fransiskus menyebut Rohingya dalam pertemuannya dengan Jenderal Min Aung Hlaing, yang diakhiri dengan pertukaran cindera mata. Paus memberinya medali perjalanan, sementara Hlaing memberi paus sebuah kecapi dalam bentuk perahu, dan mangkuk nasi berhias.
Terpisah, di kamp pengungsian Kutupalong di selatan Bangladesh, Senu Ara, 35, menyambut kedatangan Paus Fransiskus dan berharap dia bisa melakukan sesuatu untuk para pengungsi tersebut.
"Dia mungkin bisa membantu kita mendapatkan kedamaian yang sangat kita cari," katanya. "Bahkan jika kita tetap di sini dia akan membuat situasi kita lebih baik. Jika dia memutuskan untuk mengirim kita kembali (ke kampung halaman), dia akan melakukannya dengan cara yang damai."(AP/OL-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved