Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
DI ATAS meja sebuah lokakarya kecil di kamp pengungsi Palestina, Yordania, terdapat beragam jilbab motif kotak-kotak tradisional keffiyeh dengan warna yang berbeda, beserta syal kasmir, dan tas tangan.
Bendera dan peta tergantung di dinding, mengingatkan para pengungsi akan tanah kelahiran juga nenek moyang mereka.
Dalam lokakarya itu pun terlihat Halima al-Ankassuri, 54, sedang membordir pola tradisional di atas selendang biru yang akan dijual di butik-butik kelas atas.
Ibu dari tujuh anak itu menggambarkan karyanya sebagai produk modern dengan warna-warna berkilau, disulam dengan motif Palestina dan Islam.
"Saya bangga melihat orang-orang Eropa memakai yang kami hasilkan di sini dan melihat majalah-majalah fashion terbaik menaruh minat," katanya merujuk pada edisi daring majalah Vogue Jerman.
Dengan senyuman lebar di wajahnya yang diselubungi kain merah, Ankassuri mengakui bordir merupakan sumber pendapatan yang penting.
"Kita semua menderita kemiskinan di kamp ini. Pekerjaan ini membantu kita memperbaiki hidup, bahkan jika kita kenakan biaya produk secara individual dengan harga rendah, dari 15 sampai 20 dinar," tuturnya.
Setiap produk yang dibordirnya membutuhkan sekitar satu minggu kerja. Meski tangannya terasa sakit, Ankassuri merasa senang berada di lokakarya bersama perempuan-perempuan lainnya.
Selain Ankassuri, ada pula Hiba al-Hudari, 37, yang menganggap lokakarya itu rumah keduanya sembari tekun menenun tas biru dengan tulisan-tulisan Islam. Ibu dari enam anak itu mengatakan dapat menghasilkan sekitar 150 dinar per bulan.
"Dengan itu, saya membantu suami saya, montir, menyediakan kebutuhan rumah tangga kami," katanya. Ankassuri dan rekan-rekannya belajar seni bordir dari ibu dan nenek mereka.
Kamp Jerash, Yordania utara yang disebut juga Gaza Kamp, menampung lebih dari 11.000 orang Palestina yang melarikan diri dari Jalur Gaza selama perang Arab-Israel 1967.
Selama setengah abad, lebih dari 29.000 pengungsi tinggal di kamp dalam kemiskinan, pengangguran, dan infrastruktur yang hancur.
Baru pada 2013, Roberta Ventura, Investor Perbankan asal Italia, memutuskan untuk membuat proyek sosial untuk membantu perempuan di kamp setelah berkunjung dan melihat keterampilan unik mereka.
"SEP Jordan (SEP untuk proyek perusahaan sosial) bertujuan untuk mengubah hidup bukan hanya puluhan tapi dari waktu ke waktu, ratusan, mungkin ribuan perempuan," ungkapnya.
Ventura menyatakan bakat unik para perempuan itu dihargai di seluruh dunia apalagi setiap wilayah bersejarah Palestina memiliki motif dan corak tersendiri.
Direktur Program tersebut, Nawal Aradah mengaku proyek dimulai dengan 10 perempuan dan sekarang mencapai 300 perempuan.
"Kami membuat produk berdasarkan permintaan: selendang, tas tangan, handuk, seprai, dan segala jenis dekorasi rumah tangga," imbuhnya.
Bagi Aradah, karya mereka membantu mempromosikan perjuangan rakyat Palestina. "Setiap wanita punya cerita," kata Aradah yang bangga programnya dapat membantu perekonomian keluarga para pengungsi.
Setiap dua bulan, sebelas sampai 14 karton berisi 190 sampai 270 kilogram barang dikirim ke toko-toko di Paris, London, atau Dubai. Produk itu juga dijual di dalam wilayah Palestina yakni di Betlehem, menurut Manajer Regional Proyek tersebut, Mahmoud al-Haj.
Di sebuah toko dalam hotel besar di Amman, harga berkisar antara 20 sampai 300 dinar (US$30-US$ 430, 25-362 euro), dengan kebanyakan pembeli adalah turis asing.
Lebih dari dua juta pengungsi Palestina terdaftar di Perserikatan Bangsa-Bangsa di Yordania, namun populasi negara itu sendiri sekitar setengahnya terdiri dari 6,6 juta orang Palestina. (AFP/OL-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved