Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Berharap Paus Sebut 'Rohingya' Saat Kunjungi Myanmar

Irene Harty
23/11/2017 18:38
Berharap Paus Sebut 'Rohingya' Saat Kunjungi Myanmar
(AP)

PASTOR William Hla Myint Oo bersama 16 umatnya dari Kongregasi Kawkareik di Karen, perbatasan timur Myanmar, akan menyambut kedatangan Paus Francis di Yangon, Myanmar bersama 200.000 jemaah lainnya dalam misa bersejarah yang dipimpin oleh paus sendiri.

Itu menjadi kunjungan paus pertama ke negara mayoritas Buddhis, yang mana sekitar 700.000 umat Katolik hanya mewakili lebih dari 1% populasi. Kongregasi yang hanya terdiri dari tiga keluarga itu akan melakukan perjalanan bersama Pastor William selama delapan jam ke Yangon.

"Kami sangat gembira. Kunjungan Paus untuk melihat kita, memberi kekuatan nyata yang memperkuat semangat kita," kata pastor yang baru pindah ke pos terdepan di Karen, lima bulan lalu.

Kawkareik yang berpenduduk 40 ribu orang, terkenal karena bukit-bukit batu kapur yang dihiasi pagoda-pagoda, bukti dominasi Buddhisme. Gereja, yang terselip di balik tembok tinggi dan belum pernah menjadi tempat pernikahan atau pembaptisan membuat pekerjaan pastoral tidak banyak.

Namun pastor kelahiran Yangon itu mengakui rasa bosan atau kesepian yang selama ini datang telah hilang oleh kunjungan paus. Saat ditanya untuk masuk dunia politik, Pastor William menjawab, "Ini rumit. Urusan manusia lebih penting daripada politik dan agama."

Paus yang selalu menyerukan perdamaian itu akan tiba pada Senin (27/11) di negara yang defensif terhadap minoritas Muslim Rohingya dengan mengusir paksa 620 ribu ke Bangladesh sejak Agustus. Krisis itu membingkai kedatangan Paus tapi Pastor William yakin hal itu tidak memengaruhi moment tersebut.

Maria Maung Lone, pendoa berusia 73 tahun, sama-sama senang kedatangan tamu dari Vatikan. "Tidak ada nenek moyang saya yang pernah melakukan ini. Kami sangat beruntung karena kami memiliki kesempatan ini," katanya sambil tersenyum lebar.

Umat Katolik dari seluruh negeri, termasuk wilayah pegunungan dan Chin di Kachin yang terpencil diharapkan turun ke Yangon untuk kunjungan paus, yang berlangsung dari 27-30 November. Sementara umat Katolik Myanmar senang dengan kunjungan paus, perjalanan juga penuh dengan risiko.

Walaupun pembentukan hubungan diplomatik penuh dengan Vatikan terjadi pada Mei tahun ini, masyarakat dunia menunggu apakah Paus Fransiskus menggunakan kata 'Rohingya' saat di Yangon.

Istilah itu dianggap 'beracun' karena Rohingya bukan etnis asli dan diganti dengan 'Bengali'. "Dia tidak akan bisa menghindari pembicaraan tentang krisis Rohingya. Tapi dia juga akan sadar bahwa ... intervensi seorang pemimpin Kristen lebih mungkin untuk mengobarkan situasi daripada mempromosikan pemahaman antaragama," kata Analis Militer yang berbasis di Myanmar, Richard Horsey.

Dalam beberapa bulan terakhir, paus berulang kali memakai 'Rohingya, menyerukan perdamaian, penerimaan antaragama, dan mencela nasib anak-anak pengungsi yang terjebak di Bangladesh.

Perkataannya membuat komunitas Katolik Myanmar gugup namun persiapan telah dilakukan termasuk kepada para kardinal untuk menenangkan situasi itu.

"Kita dapat melihat Bapa Suci mendapat informasi yang sangat baik. Saya yakin dia mengerti masalahnya dan karena itu ketakutan kita berkurang," kata Juru Bicara Gereja Katolik Myanmar, Pastor Soe Naing.

Penganut Katolik di Myanmar telah ada selama lebih dari 500 tahun yang dibawa oleh pedagang Portugis dari pemukiman India mereka di Goa. Namun baru pada abad ke 18 negara itu menjadi wilayah misi walau tidak selalu mudah.(AFP/OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya