Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
PRODUKSI opium di Afghanistan mencapai rekor tertinggi pada tahun ini, meningkat 87 persen jika dibandingkan dengan
tahun lalu. Hal itu terjadi setelah adanya perluasan pesat wilayah untuk mengolah bunga popi.
Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Rabu (16/11) dalam temuan utama survii opium Afghanistan yang dirilis secara tahunannya, di Kantor PBB Urusan Narkoba dan Kejahatan (UNODC) mengatakan bahwa produksi opium, yang dibuat
dari benih popi di Afghanistan, sumber utama heroin di dunia, mencapai sekitar 9.000 metrik ton pada tahun ini.
"Peningkatan pemberontakan dan pendanaan untuk kelompok teroris kemungkinan terjadi di Afghanistan, sementara heroin dengan mutu tinggi dengan harga lebih rendah akan menjangkau pasar di seluruh dunia, yang menyebabkan peningkatan konsumsi," kata UNODC.
Laporan pada tahun lalu memperingatkan bahwa kekhawatiran keamanan Kabul, yang melemah di banyak wilayah berkontribusi pada keruntuhan upaya pemberantasan opium, metoda yang diperjuangkan Amerika Serikat setelah memimpin serbuan ke Afghanistan pada 2001, ketika negara tersebut berada di bawah kekuasaan Taliban.
Pada tahun ini, gubernur provinsi membasmi sekitar 750 hektare yang digunakan untuk budidaya opium, dua kali lipat lebih besar dari tahun lalu. Namun, area budidaya juga mencapai rekor tahun ini pada 328.000 hektare, naik lebih dari 60 persen ketimbang tahun lalu. Kawasan selatan dan timur laut menunjukkan pertumbuhan terbesar.
Hasil rata-rata per hektare juga terdorong sebanyak 15 persen sejak tahun lalu, menurut laporan tersebut. Dalam hal keuangan, nilai tukar petani dari opium yang dihasilkan naik lebih dari 50 persen sekitar US$1,4 miliar atau 7 persen dari produk domestik bruto Afghanistan, kata UNODC.(Ant/OL-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved