Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
ORGANISASI penghapusan senjata nuklir atau International Campaign to Abolish Nuclear Weapons (ICAN) diganjar Nobel Perdamaian 2017, kemarin.
Organisasi yang berbasis di Jenewa, Swiss, itu menyisihkan lebih dari 300 nomine yang masuk untuk kategori tersebut.
ICAN dinilai sukses menaikkan kesadaran publik tentang konsekuensi serius dari senjata nuklir. "Ditambah upaya terobosannya untuk mencapai perjanjian larang-an penggunaan senjata nuklir," ujar Ketua Komite Nobel Berit Reiss-Andersen.
Perjanjian larangan penggunaan senjata nuklir itu akhirnya diadopsi 122 negara anggota PBB pada Juli 2017. Namun, sembilan negara di dunia yang memiliki kekuatan nuklir, termasuk Inggris dan Amerika Serikat, tak menandatangani perjanjian itu.
Saat pengumuman peraih Nobel Perdamaian, masalah nuklir Korea Utara turut disinggung. Disebutkan, sejumlah negara sedang memodernisasi persenjataan nuklir dan ada bahaya nyata bahwa lebih banyak negara yang mencoba memproduksi senjata nuklir, seperti yang dicontohkan Korea Utara.
Tahun ini, Korea Utara telah meluncurkan serangkaian roket dan uji coba nuklir. Aksi itu membuat perang retorika dengan Presiden AS Donald Trump memanas.
"Senjata nuklir memiliki risiko untuk mengakhiri dunia secara keseluruhan. Selama senjata-senjata itu ada, risikonya akan tetap mengintai, dan akhirnya keberuntungan kita akan sirna," kata Kepala ICAN Beatrice Fihn.
ICAN bukan organisasi antisenjata nuklir pertama yang dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian. Pada 1995, Nobel Perdamaian diberikan kepada Pugwash, organisasi yang juga aktif mengampanyekan perlunya penghapusan senjata nuklir.
ICAN akan menerima medali, sertifikat, dan uang senilai US$1,1 juta (sekitar Rp14,8 miliar). Upacara penerimaan akan digelar pada Desember.(AFP/BBC/Hym/X-10)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved