Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Pengungsi akan Dipindahkan

02/10/2017 08:35
Pengungsi akan Dipindahkan
(AFP/FRED DUFOUR)

PEMERINTAH Bangladesh berencana memindahkan sedikitnya 15 ribu peng­­ungsi Rohingya yang telah me­netap di sebuah distrik perbu­kitan yang bergolak di dekat per­batasan dengan Myanmar ke sebuah kamp pengungsian uta­ma.

Sebagian besar dari sekitar se­tengah juta warga Rohingya yang tiba di Bangladesh Tenggara selama lima pekan terakhir setelah melarikan diri dari keke­rasan di Myanmar dijejalkan ke kamp-kamp yang bermunculan di lahan pemerintah.

Namun, ribuan pengungsi muslim itu telah menetap di Distrik Bandarban, bagian dari Bukit Chittagong, tempat suku-suku pribumi melakukan pemberontakan separatis pada 1980-an dan 1990-an.

Otoritas Bangladesh takut kehadiran warga Rohingya dapat menghidupkan kembali ketegangan antara penduduk muslim dan suku setempat, yang mayoritas beragama Buddha.

“Pemerintah sekarang telah me­mutuskan memindahkan se­mua 15 ribu warga Rohingya yang baru tiba ke kamp utama,” kata administrator pemerintah Bandarban Dilip Kumar Banik.

Lebih lanjut, Banik mengata­kan pemerintah akan mulai me­­mindahkan mereka pada Senin (2/10) untuk memastikan perdamaian di distrik tersebut.

Kelompok kesukuan meng­akhiri pemberontakan separatis mereka pada 1997 dan menandatangani sebuah perjanjian damai dengan pemerintah.

Namun, ketegangan berlanjut antara populasi muslim lokal dan kelompok kesukuan, yang memiliki hubungan dekat dengan umat Buddha Rakhine, etnik yang dituduh melakukan se­rangan terhadap warga Rohing­ya di Myan­mar.

Pada Juni tahun ini, umat Islam setempat membakar ratusan ru­mah di sebuah komunitas kesukuan menyusul pembunuhan politisi lokal. Pada Mei tahun lalu, seorang biarawan Buddha berusia 75 tahun ditemukan tewas di Kota Bandarban. Pembunuhan itu kemudian diklaim kelompok Islamic State (IS).

Bangladesh telah membuka perbatasannya dengan Myanmar, yang menolak kewarganega­raan warga Rohingya di negara mereka. Namun, hal itu tidak serta-merta memberi mereka status pengungsi resmi dan telah menjelaskan bahwa Bangladesh tidak ingin para pengungsi itu mene­tap tanpa batas waktu.

Pihak berwenang telah mem­ba­tasi pergerakan para peng­ungsi dan melarang mereka meninggalkan daerah kamp yang penuh sesak. Banik mengatakan bahwa pe­merintah juga ingin memindahkan sekitar 12 ribu warga Ro­hingya yang terdampar di ta­nah tidak berdaulat antara Bangladesh dan Myanmar.

Sementara itu, pemerintah Myanmar telah membuka kembali sekolah-sekolah untuk anak-anak etnik Rakhine di berbagai kota yang dilanda kekerasan komunal. Naypyidaw mengatakan, stabilitas di kawasan itu telah normal meski ribuan warga Rohingya masih melarikan diri ke Bangladesh.

Sekitar 1 juta warga Rohingya melarikan diri ke Bangladesh. Sementara itu, 30 ribu warga etnik Rakhine, yang mayoritas beragama Hindu dan Buddha juga terpaksa mengungsi. (AFP/Arv/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya