Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMERINTAH Bangladesh berencana memindahkan sedikitnya 15 ribu pengungsi Rohingya yang telah menetap di sebuah distrik perbukitan yang bergolak di dekat perbatasan dengan Myanmar ke sebuah kamp pengungsian utama.
Sebagian besar dari sekitar setengah juta warga Rohingya yang tiba di Bangladesh Tenggara selama lima pekan terakhir setelah melarikan diri dari kekerasan di Myanmar dijejalkan ke kamp-kamp yang bermunculan di lahan pemerintah.
Namun, ribuan pengungsi muslim itu telah menetap di Distrik Bandarban, bagian dari Bukit Chittagong, tempat suku-suku pribumi melakukan pemberontakan separatis pada 1980-an dan 1990-an.
Otoritas Bangladesh takut kehadiran warga Rohingya dapat menghidupkan kembali ketegangan antara penduduk muslim dan suku setempat, yang mayoritas beragama Buddha.
“Pemerintah sekarang telah memutuskan memindahkan semua 15 ribu warga Rohingya yang baru tiba ke kamp utama,” kata administrator pemerintah Bandarban Dilip Kumar Banik.
Lebih lanjut, Banik mengatakan pemerintah akan mulai memindahkan mereka pada Senin (2/10) untuk memastikan perdamaian di distrik tersebut.
Kelompok kesukuan mengakhiri pemberontakan separatis mereka pada 1997 dan menandatangani sebuah perjanjian damai dengan pemerintah.
Namun, ketegangan berlanjut antara populasi muslim lokal dan kelompok kesukuan, yang memiliki hubungan dekat dengan umat Buddha Rakhine, etnik yang dituduh melakukan serangan terhadap warga Rohingya di Myanmar.
Pada Juni tahun ini, umat Islam setempat membakar ratusan rumah di sebuah komunitas kesukuan menyusul pembunuhan politisi lokal. Pada Mei tahun lalu, seorang biarawan Buddha berusia 75 tahun ditemukan tewas di Kota Bandarban. Pembunuhan itu kemudian diklaim kelompok Islamic State (IS).
Bangladesh telah membuka perbatasannya dengan Myanmar, yang menolak kewarganegaraan warga Rohingya di negara mereka. Namun, hal itu tidak serta-merta memberi mereka status pengungsi resmi dan telah menjelaskan bahwa Bangladesh tidak ingin para pengungsi itu menetap tanpa batas waktu.
Pihak berwenang telah membatasi pergerakan para pengungsi dan melarang mereka meninggalkan daerah kamp yang penuh sesak. Banik mengatakan bahwa pemerintah juga ingin memindahkan sekitar 12 ribu warga Rohingya yang terdampar di tanah tidak berdaulat antara Bangladesh dan Myanmar.
Sementara itu, pemerintah Myanmar telah membuka kembali sekolah-sekolah untuk anak-anak etnik Rakhine di berbagai kota yang dilanda kekerasan komunal. Naypyidaw mengatakan, stabilitas di kawasan itu telah normal meski ribuan warga Rohingya masih melarikan diri ke Bangladesh.
Sekitar 1 juta warga Rohingya melarikan diri ke Bangladesh. Sementara itu, 30 ribu warga etnik Rakhine, yang mayoritas beragama Hindu dan Buddha juga terpaksa mengungsi. (AFP/Arv/I-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved