Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

AS-India Pererat Kerja Sama Pertahanan

25/9/2017 09:26
AS-India Pererat Kerja Sama Pertahanan
(AFP/JOHN THYS)

Pembelian jet tempur, kesepakatan pesawat nirawak, dan kekhawatiran mengenai keamanan Afghanistan akan mendominasi agenda kunjungan Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) James Mattis ke India pekan ini.

Mattis dijadwalkan tiba malam ini dan akan bertemu Perdana Menteri Narendra Modi dan menteri pertahanan. Ini ialah kunjungan pertama oleh seorang pejabat tinggi AS sejak Donald Trump menjadi presiden pada Januari lalu.

“AS memandang India sebagai mitra yang berharga dan berpengaruh, dengan kepentingan bersama yang luas menjangkau jauh melampaui Asia Selatan,” demikian pernyataan Pentagon, kemarin.

Trump dan Modi bertemu pada Juni di Washington dan kunjungan Mattis ialah sebuah tanda bahwa kedua negara menitikberatkan kerja sama di sektor pertahanan.

“Kepemimpinan politik di kedua negara menempatkan kerja sama pertahanan sebagai prioritas utama,” ujar Mukesh Aghi, Presiden Forum Kemitraan Strategis AS-India.

Delhi dan Washington sama-sama prihatin dengan masalah Afghanistan. Bulan lalu Trump mengumumkan sebuah strategi baru untuk negara yang dilanda perang itu dengan membuka jalan bagi penempatan lebih dari ribuan tentara AS di sana.

Presiden Trump telah mendesak India untuk meningkatkan bantuan terhadap ekonomi Afghanistan, dan mengecam saingan utama Delhi, Pakistan, karena menawarkan tempat perlindungan bagi ‘agen-agen kekacauan’.

“Mattis akan mengungkapkan apresiasi AS atas kontribusi penting India terhadap demokrasi, stabilitas, kemakmuran, dan keamanan Afghanistan,” kata Pentagon.

Para ahli tidak melihat akan ada upaya pengerahan pa­sukan India di lapangan, meskipun mungkin ada beberapa peran untuk keahlian militer India dalam mendukung misi pelatihan dan konsultasi pimpinan AS dengan pasukan keamanan Afghanistan.

India telah lama bersaing dengan Pakistan untuk mendapat pengaruh di Afghanis­tan, membangun bendungan, jalan, dan sebuah parlemen baru di negara yang bermasalah itu. Tahun lalu negara itu menawarkan bantuan senilai US$1 miliar. (AFP/Hym/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya