Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

AS Unjuk Kekuatan kepada Korea Utara

Haufan Hasyim Salengke
25/9/2017 09:19
AS Unjuk Kekuatan kepada Korea Utara
()

Amerika Serikat (AS) memberikan peringatan lebih keras kepada Korea Utara (Korut) dengan mengutus pesawat pengebom dan tempur ke wilayah udara Pyongyang. Unjuk kekuatan itu digelar saat retorika antara Presiden Donald Trump dan pemimpin tertinggi Korut, Kim Jong-un, kian menajam.

Pentagon mengatakan, Sabtu (23/9) waktu setempat, jet pengebom B-1B Lancer dari Guam dan pesawat tempur F-15C Eagle yang mengawal dari Okinawa, Jepang, telah melakukan misi penerbangan di wilayah udara internasional di atas perairan timur Korea Utara (Korut).

Armada perang itu terbang ke titik terjauh di utara perbatasan antara Korut dan Korea Selatan (Korsel), yang terjauh oleh pesawat AS sejenisnya pada abad ini.

Pentagon menegaskan misi itu menunjukkan Presiden Trump sangat serius menanggapi perilaku Pyongyang.

“Misi ini ialah demonstrasi tekad AS dan sebuah pesan jelas bahwa Trump memiliki banyak opsi militer untuk mengalahkan ancaman apa pun,” ujar juru bicara Departemen Pertahanan, Dana White, kemarin.

“Program senjata Korut merupakan ancaman serius bagi kawasan Asia Pasifik dan seluruh masyarakat internasional. Kami siap menggunakan seluruh kemampuan militer untuk mempertahankan tanah air AS dan sekutu kami,” White menambahkan.

Sebaliknya, Jong-un memperingatkan Trump akan ‘membayar mahal’ karena mengancam akan ‘menghancurkan Korut sepenuhnya jika AS dipaksa untuk membela diri atau sekutunya melawan serangan Pyongyang.

Menlu Korut Ri Yong-ho juga mengatakan kepada wartawan pekan lalu bahwa tanggapan Korut terhadap Trump ‘bisa menjadi ledakan bom hidrogen yang paling kuat di Pasifik’.

Sabtu (23/9) malam waktu AS, Trump sekali lagi melontarkan komentar di Twitter yang menyerang rezim Korut. Trump kembali menyebut Jong-un sebagai ‘manusia roket’ dan mengatakan Menlu Ri Yong-ho dan bosnya tidak lama lagi akan lenyap.

Celaan Trump dibalas cemooh­an oleh Jong-un dan Ri, yang sama-sama menyebut Trump sebagai manusia ‘gila secara mental’. Ri juga mengatakan kepada Majelis Umum PBB bahwa menargetkan darat­an utama AS dengan roket tak terelakkan.

“Sebagai orang yang memegang tombol nuklir, Trump merupakan ancaman paling mematikan bagi perdamaian internasional dan keamanan saat ini,” kata Ri.

Tidak perang
Di tengah perseteruan yang kian panas itu, Rusia yakin tidak akan terjadi perang. Menlu Rusia Sergei Lavrov mengatakan AS tidak akan menyerang Korut karena Washington tahu bahwa Pyongyang memiliki bom nuklir.

Korut bulan ini melakukan uji bawah tanah bom hidrogen yang ukurannya diperkirakan 16 kali ukuran bom yang dijatuhkan AS di Hiroshima, Jepang, pada 1945.

“Amerika tidak akan menyerang Korea (Utara) karena itu bukan yang mereka curigai. Mereka tahu bahwa Korut memiliki bom nuklir,” ujar Lavrov dalam wawancara dengan televisi Rusia NTV, kemarin.

“Saya tidak sedang membela Korut. Saya hanya mengatakan bahwa hampir semua orang sepakat dengan analisis ini,” kata diplomat Rusia itu.

Dia mengatakan krisis ini hanya bisa diselesaikan dengan pendekatan yang lebih lunak. “Hanya dengan perhatian, usulan, dan bujukan,” kata Lavrov mengenai cara untuk menghentikan ambisi Korut. (AFP/Hym/I-1)

[email protected]



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya