Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
SUNGGUH berat perjalanan tim pembawa bantuan kemanusiaan dari Indonesia untuk pengungsi di negara bagian Rakhine, Myanmar.
Selain tingginya rasa curiga warga setempat kepada orang asing, ke terbatasan transportasi, dan sulitnya medan menjadikan bantuan 19,5 ton yang tiba di Bandara
Yangon, Kamis (21/9), harus melewati beberapa titik sebelum tiba di pengungsian.
Bantuan yang diterima Dirjen Kementerian Sosial, Bantuan, dan Permukiman Kembali Myanmar U Ko Ko Naing itu tengah dalam perjalanan menuju Sittwe yang memakan waktu tiga-empat hari lewat jalur darat.
“Lokasi (pengungsi) yang tersebar menyulitkan kami. Para pengungsi tinggal berkelompok, yakni 10 orang atau 20 orang,” kata Dubes RI untuk Myanmar Ito Sumardi, di Kantor KBRI Yangon, Myanmar, Jumat (22/9).
Setiba di Sittwe, bantuan tersebut baru dikirimkan ke Buthidaung lewat sungai selama enam jam perjalanan. Itu pun dengan kapasitas kapal terbatas. Selanjutnya, bantuan diteruskan lagi ke Maungdaw dengan jalur darat selama satu jam. Dari Maungdaw, bantuan baru disalurkan kepada pengungsi yang tersebar tersebut.
Ito Sumardi mengungkapkan suasana di Rakhine yang tegang menjadi tantangan tersendiri bagi tim. Militer Myanmar yang masih menguasai sepenuhnya Rakhine membuat tim perlu izin khusus terlebih dulu.
Pemerintah Myanmar benar-benar menutup pintu bantuan dari LSM dan PBB. Namun, mereka masih menerima bantuan dari International Committee of the Red Cross (ICRC) dan negara-negara yang dianggap tidak memiliki kepentingan dalam menyalurkan bantuan.
Oleh karena itu, bantuan kemanusiaan dari Indonesia hanya dapat disalurkan oleh pemerintah setempat bersama ICRC. Nanti KBRI akan menerima bukti foto dan video bantuan yang telah disalurkan.
Pelaksana Fungsi Politik KBRI untuk Myanmar Bonifatius Herindra mengakui konflik di Rakhine menimbulkan penderitaan bagi warga setempat. Itulah yang kemudian memantik ketidakpercayaan mereka kepada pihak luar.
“Mereka berulangkali mendapat serangan luar biasa sehingga sangat panik. Bagaimana tidak panik kalau aparat kepolisian saja diserang. Itu yang menimbulkan kecurigaan dan rasa tidak aman,” ujar Boni.
Deputy Resident Representative ICRC, Mark Silverman, sependapat situasi di Rakhine masih tegang. ICRC satu-satunya organisasi yang bisa mengirimkan bantuan pun tidak lepas dari kendala.
“Kami berupaya secepatnya menyalurkan bantuan untuk orang-orang yang membutuhkan,” ungkap Silverman di Kantor ICRC.
Silverman mengutarakan setiap lokasi pengungsian memerlukan bantuan berbeda-beda, seperti air bersih, obat-obatan, atau bahkan koneksi telepon. ICRC butuh mobilisasi tinggi untuk menyalurkan bantuan bagi pengungsi di Rakhine.
Menurut Silverman, akibat konflik berkepanjangan di Rakhine sudah lebih dari 400 ribu pengungsi menyeberang ke Bangladesh dan sekitar 150 ribu lagi terdampak konflik di Rakhine. “Bantuan kami untuk semua yang terdampak konflik.”
Hal senada pun disampaikan U Ko Ko Naing di Bandara Yangon. “Kami berikan langsung ke semua penduduk tanpa diskriminasi.” (X-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved