Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Lawan IS, Militer Filipina Gandeng Musuh Lama

Anastasia Arvirianty
06/9/2017 20:15
Lawan IS, Militer Filipina Gandeng Musuh Lama
(AFP)

MILITER Filipina mengatakan telah bekerja sama dengan musuh lama yaitu Moro Islamic Liberation Front (MILF), ketika mereka berusaha mengusir sekelompok militan radikal Negara Islam (IS).

Tentara terlihat berbaur bebas dengan ratusan pejuang MILF yang telah bergabung dalam serangan terhadap orang-orang bersenjata di pulau selatan Mindanao yang tengah bergolak.

Operasi gabungan tersebut merupakan taktik terbaru pemerintah Filipina untuk mencoba memberantas pejuang pro-IS, setelah berbulan-bulan berjuang melawan faksi militan terpisah yang telah mengepung kota Marawi, sekitar 100 kilometer (60 mil) ke utara.

Mayor Jenderal Arnel dela Vega mengatakan aliansi dengan MILF termasuk langkah memberi mereka dukungan tembak tidak langsung, dukungan udara, dan keahlian lainnya. Ia menuturkan, kesepakatan tersebut adalah situasi 'win-win' baik untuk pemerintah maupun MILF.

"Pada umumnya hasilnya sangat menguntungkan kita," kata dela Vega.

Mohagher Iqbal, seorang pemimpin senior MILF, mengatakan militan IS yang dipimpin Abu Turaifi ingin mencuri tentara gerilyawan MILF dan memiliki tujuan yang sama dengan faksi militan pro-IS yang berusaha mengukir wilayah di Marawi.

Lebih lanjut, dela Vega mengungkapkan, militer memberi informasi intelijen kepada MILF dalam perang melawan sekitar 60 militan yang dipimpin oleh Esmael Abdulmalik alias Abu Turaifi, mantan pemimpin gerilyawan MILF.

Namun, dia mengatakan, unit pasukan tidak akan bergabung dengan kelompok pertarungan MILF karena mereka memiliki taktik operasional dan prosedur yang berbeda dalam konflik tersebut.

Seorang wartawan televisi yang bekerja untuk AFP melihat dua helikopter militer menembaki posisi faksi militan tersebut, sementara sebuah van polisi mengumpulkan anggota MILF yang tewas dan terluka di dekat kota pertanian Datu Salibo pada Selasa (5/9).

Dahulu kala, sebuah pemberontakan oleh 10.000 anggota MILF telah menewaskan lebih dari 100.000 orang, menurut perkiraan pemerintah. Kelompok tersebut menandatangani sebuah perjanjian damai pada 2014 namun tidak akan melucuti senjata sebelum pemerintah mengeluarkan sebuah undang-undang yang mengatur pemberian otonomi ke wilayah-wilayah muslim di negara yang mayoritas beragama Katolik.

Adapun, pertempuran Marawi telah menyebabkan hampir 1.000 orang tewas, namun belasan orang bersenjata terus melakukan serangan udara selama beberapa bulan dan masih menahan sandera. (AFP/X-12)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Ahmad Punto
Berita Lainnya