Headline

RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.

Maduro Olok-Olok Trump Paska AS Berlakukan Sanksi

MIOL
01/8/2017 14:06
Maduro Olok-Olok Trump Paska AS Berlakukan Sanksi
(AFP/Presidency)

PRESIDEN Venezuela Nicolas Maduro mengolok-olok sanksi, yang dijatuhkan Washington, pada Senin (31/7) setelah pemilihan badan baru legislatif (konstituante) yang mendorong Gedung Putih menyebutnya diktator karena "memiliki kekuasaan mutlak".

Venezuela, yang kaya minyak tapi perekonomiannya sedang menurun, tengah menanti gelombang unjuk rasa terhadap Maduro, yang tidak disukai, yang pendukung setianya di Mahkamah Agung meniadakan kongres yang dikendalikan oposisi. Kini setelah kemenangan berada di pihak Maduro, Venezuela tengah menunggu tindakan majelis konstituante, yang
baru dibentuk.

Seperti diberitakan sebelumnya, sedikitnya 10 orang tewas dalam kerusuhan saat pemungutan suara pada Minggu (30/7), yang menjadikan jumlah korban tewas akibat unjuk rasa menentang pemerintah dalam empat bulan belakangan menjadi lebih dari 120 jiwa.

Pemerintah asing mulai dari Spanyol, Kanada, Argentina dan Peru bergabung dengan Washington dalam mengecam pemilihan umum itu, yang diboikot oposisi dan secara luas dipandang sebagai penghinaan terhadap demokrasi.

Maduro, yang pada Senin (31/7) pagi setelah mengumumkan kemenangannya langsung dijatuhi sanksi, meresponsnya dengan mencaci Presiden Donald Trump. "Trump memenangkan kursi kepresidenan melalui lembaga pemilihan umum setelah kalah dalam pemungutan suara pada pemilihan November. Saya tidak menerima perintah dari kekaisaran," teriaknya pada sebuah
pertemuan dengan pendukungnya di televisi.

"Ambil sanksimu Donald Trump!" "Di Amerika Serikat, mungkin bisa menjadi presiden dengan suara 3 juta lebih sedikit dari lawan Anda. Betapa demokrasi yang luar biasa!" kata Maduro kepada penonton yang bersorak dan bertepuk tangan.

Seperti diketahui, calon presiden Partai Demokrat Hillary Clinton dalam penghitungan suara melampaui Trump dengan hampir 2,9 juta suara. Namun, sistem di AS yang perolehan kursi dihitung berdasarkan suara di masing-masing negara bagian pada akhirnya mengantarkan Trump yang menduduki kursi presiden.

Maduro menambahkan sikap Trump yang memberi sanksi Venezuela sebagai cerminan "keputusasaan" Trump dan "kebencian" terhadap pemerintahan sosialis Venezuela.

Di bawah sanksi tersebut, semua aset Maduro yang tunduk pada yurisdiksi Amerika Serikat dibekukan, dan orang Amerika dilarang melakukan bisnis dengannya, kata Kantor Pengawasan Aset Luar Negeri Departemen Luar Negeri Amerika Serikat dalam sebuah pernyataan.

"Maduro bukan hanya pemimpin yang buruk. Dia sekarang seorang diktator," Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih H.R. McMaster mengatakan dalam sebuah konferensi pers.

"Tindakan terakhir yang berpuncak pada penyitaan kekuatan absolut kemarin melalui pemilihan cepat Majelis Konstituante Nasional merupakan pukulan yang sangat serius terhadap demokrasi di belahan bumi kita. Maduro, seperti pendahulunya dan mentornya, mendiang Hugo Chavez, secara teratur menertawakan kritik dari Washington.(OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya