Sabtu 10 Juni 2017, 13:12 WIB

Reformasi Ekonomi Qatar Penyebab Konflik Negara Teluk

Surya Perkasa | Internasional
Reformasi Ekonomi Qatar Penyebab Konflik Negara Teluk

AFP

 

QATAR yang berpenduduk 2,6 juta jiwa 'dikeroyok' Arab Saudi dan sejumlah negara teluk lain. Ekonomi yang kuat akibat pendekatan reformasi di internal keluarga dan negara Qatar jadi alasan.

"Qatar itu adalah development model. Monarki boleh, tapi harus ada perubahan," kata Ekonom Indef Berly Martawardaya dalam diskusi Populi Center di kawasan Menteng, Jakarta, Sabtu (10/6).

Perubahan tersebut terjadi secara berkala sejak Inggris memberikan kemerdekaan kepada Qatar. Namun reformasi yang terlihat signifikan terjadi saat konflik internal di keluarga Al Thani terjadi.

Kekuasaan di generasi lama yang disimbolkan oleh kepemimpinan Khalifa bin Hamad Al Thani, diambil alih oleh anaknya yang bernama Hamad bin Khalifa Al Thani. Sejumlah perubahan besar secara fundamental di sisi bisnis diupayakan.

"Emir yang saat ini memimpin, sadar walau cadangan migas Qatar besar, tantangan di masa depan itu adalah inovasi," kata Berly.

Qatar pun membuka pintu ke sejumlah institusi akademik besar dari Amerika lewat barter pangkalan militer. Contohnya Universitas John Hopkins yang dikenal dengan sekolah medis terbaik dan Brookings Institutions yang diketahui sebagai think tank besar asal AS.

Tak hanya itu, Qatar memanfaatkan keuntungan dari minyak yang mereka dapat untuk membangun industri dan pusat keuangan syariah. Perubahan ini membuat Qatar menjadi salah satu raksasa ekonomi di kawasan teluk.

"Qatar adalah satu contoh yang paling tepat bagaimana sebuah negara kecil dengan kemampuan ekonomi luar biasa, mereformasi diri sejak awal," kata pakar politik UIN Jakarta, Ali Munhanif.

Qatar mampu memiliki pendapatan bruto US$353 miliar (sekitar Rp4.594 triliun) dan pendapatan per kapita penduduk US$145 ribu (sekitar Rp1,92 miliar). Walaupun penduduk asli hanya berjumlah 12% total penduduk Qatar.

"Reformasi ini berhasil. Qatar menjadi negara kecil tapi memiliki pengaruh besar," kata Ali.

Hal ini membuat negara-negara teluk lain merasa terancam. Perbedaan pandangan antara negara lain dengan pandangan keluarga monarki di jazirah yang lebih konservatif ditambah dengan ancaman dari kekuatan ekonomi, membuat mereka akhirnya dimusuhi.

"Ini sebenarnya gesekan sudah lama. Cuma kebetulan ditemukanlah pemicunya berupa 'membantu kelompok teroris' lewat justifikasi dari Donald Trump," kata Ali. (OL-6)

Baca Juga

AFP

Zelensky Kecewa Israel Emoh Bantu Persenjataan

👤Cahya Mulyana 🕔Minggu 25 September 2022, 16:17 WIB
Israel lebih memilih menjual persenjataan daripada memberikannya kepada...
Ist

Letkol Arief Rahman Wakili RI di Global Leadership Summit 2022

👤mediaindonesia.com 🕔Minggu 25 September 2022, 14:56 WIB
Sebagai Instruktur PBB, Arief Rahman pernah melatih personel military observer (Milobs) dan military staff (Milstaff PBB) dengan...
AFP/Michael M. Santiago.

PM Pakistan: Tidak Adil Dampak Perubahan Iklim Ditanggung Sendiri

👤 ¬†Cahya Mulyana 🕔Minggu 25 September 2022, 14:00 WIB
Negaranya mengalami banjir terburuk yang pernah terjadi sehingga menewaskan 1.600...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya