Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Nyamuk tidak Terdata Ditemukan

MI/CORNELIUS EKO
16/12/2015 00:00
Nyamuk tidak Terdata Ditemukan
(WIKIPEDIA)
TIM Riset Khusus Vektor dan Reservoir Penyakit (Rikhus Vektora) Kementerian Kesehatan menemukan spesies nyamuk An barbirostris yang positif mengandung parasit malaria, di Sumatra Selatan, yang belum pernah terlaporkan dan tercatat di wilayah itu.

"Nyamuk itu ditemukan di area nonhutan dekat permukiman, pada habitat sawah dan kolam," ujar Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit (B2P2VRP) Salatiga, Vivi Lisdawati di Jakarta, kemarin.

Nyamuk An barbirostris , lanjut Vivi, beraktivitas pada sore hari hingga subuh (pukul 18.00-04.00 WIB). Yang mengkhawatirkan rata-rata setiap enam jam, seekor nyamuk menggigit satu orang.

Selain nyamuk An barbirostris, hal lain yang menarik dari kegiatan Rikhus Vektora adalah, penemuan nyamuk aedes aurensius di Papua yang sebelumnya tidak pernah terlaporkan. Peran penyakit ini sebagai vektor (pembawa) penyakit hingga kini belum diketahui.

"Temuan ini menarik. Pasalnya, nyamuk ini aslinya berada di wilayah Melanisea dan tidak pernah ditemukan di Papua."Temuan kedua spesies nyamuk itu, merupakan salah satu temuan menarik dari kegiatan Rikhus Vektora 2015 di empat provinsi, yaitu, Sumatra Selatan, Jawa Tengah, Sulawesi Tengah dan Papua.

Vivi menjelaskan kegiatan Rikhus Vektora merupakan aplikasi penelitian untuk memeroleh peta sebaran vektor dan reservoir (pusat penyakit), sekaligus memeroleh data cara penanggulangan tular vektor (DBD dan malaria) serta reservoir (leptospirosis dan pes).

Kegiatan Rikhus Vektora akan dilakukan selama tiga tahun, yaitu pada 2015 dilakukan di empat povinsi dan pada 2016 akan dilaksanakan di 15 provinsi dan pada 2017 rencananya di 34 provinsi.

Ancaman penyakit
Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan M Subuh menjelaskan, latar belakang dilakukannya kegiatan Rikhus Vektora di antaranya adalah cukup tingginya ancaman penyakit yang bersumber dari binatang (zoonosis). Hal itu masih terjadi baik penyakit lama (seperti pes dan ebola) atau penyakit yang baru (seperti flu burung).

Selain itu, data nasional terkait taksonomi (pengelompokan) dan bionomik (hubungan timbal balik vektor dan lingkungannya) dari berbagai nyamuk, tikus dan kelelawar.

Oleh karena itu, ujarnya, dalam upaya pengendalian dan penyegahan penyakit yang bersumber hewan, Kementerian Kesehatan bekerja sama dengan dinas terkait di daerah dalam mengambil langkah-langkah strategis dan teknis.

Peran daerah dalam menyosialisasikan penyakit zoonosis ini sangat penting karena tidak sedikit masyarakat yang masih awam terhadap penyakit yang bersumber dari hewan itu.

Lebih lanjut, Vivi Lisdawati, menyatakan kegiatan Rikhus Vektora tahun ini juga menemukan hal menarik lain, selain nyamuk. Misalnya, ditemukan tikus jenis Rattus tanezumi pada lokasi yang menyebar di semua ekosistem dan habitat. Tikus jenis ini berpotensi menyebarkan bakteri leptospirosis.

Untuk kelelawar, jenis pemakan buah seperti Rhinolopus accuminatus, ditemukan di seluruh ekosistem di empat provinsi tersebut. Hewan itu, lanjut Vivi, berpotensi menyebarkan virus Japanese encephailitis. (H-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya