OBESITAS dikenal sebagai biang berbagai gangguan kesehatan, termasuk perlemakan hati, yakni kondisi ketika sel-sel lemak mengisi organ hati. Hal itu perlu diwaspadai karena bisa menyebabkan sirosis (pengerasan hati) dan kanker hati.
"Dulu, perlemakan hati dianggap tidak membahayakan. Namun, sekarang sudah terbukti perlemakan hati menjadi salah satu penyebab sirosis dan kanker hati," ujar dokter konsultan gastro entero hepatologi dari MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta, LA Lesmana, pada temu media di rumah sakit tersebut, Senin (7/12).
Ia menjelaskan, dulu kalangan medis berpendapat bahwa sirosis hati dan kanker hati lebih banyak disebabkan infeksi virus hepatitis B dan C.
Namun faktanya, ada pasien sirosis dan kanker hati yang tidak memiliki riwayat terinfeksi virus tersebut. Setelah diteliti, disimpulkan bahwa perlemakan hati yang mereka alami yang menyebabkan kedua penyakit berbahaya itu.
Bagaimana perlemakan hati bisa berujung pada sirosis dan kanker hati? Lesmana yang juga guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu mengatakan prosesnya kompleks. "Namun diketahui, perlemakan hati yang disertai inflamasi (peradangan) berpotensi berkembang jadi sirosis hingga kanker," tutur Lesmana.
Yang mengkhawatirkan, lanjut Lesmana, perlemakan hati cukup kerap dijumpai dan ditengarai jumlahnya terus bertambah. Data Asia Pasifik pada 2006 menyebut prevalensi perlemakan hati di Indonesia 30%. Namun, data hasil medical check- pada 1.054 pasien di sebuah rumah sakit pada 2013 menunjukkan 51% dari pasien tersebut mengalami perlemakan hati.
"Angka prevalensi yang meningkat itu tidak mengejutkan, karena memang makin lama jumlah orang gemuk makin banyak," imbuh Lesmana. Lewat USG Lesmana menambahkan, perlemakan hati tidak menimbulkan gejala spesifik. Namun, kondisi itu dapat dideteksi dengan cara mudah, yakni melalui pemeriksaan ultrasonografi (USG) di area perut. Oleh karena itu, ia menyarankan agar orang-orang gemuk, terlebih obesitas, melakukan pemeriksaan USG secara rutin.
"Memang tidak semua orang gemuk mengalami perlemakan hati, tapi kondisi itu perlu diantisipasi," kata Lesmana.
Untuk mengatasi perlemakan hati, langkah yang paling efektif ialah modifikasi gaya hidup dengan diet dan olahraga. "Langkah itu paling yang paling efektif.''
Sayangnya, menurut Lesmana, berdasarkan penuturan para pasiennya yang berasal dari berbagai lapisan masyarakat, mereka mengaku sulit untuk berolahraga dan berdiet. "Banyak yang beralasan mereka pergi kerja subuh dan baru pulang di malam hari.
Jika demikian, ada baiknya agar setiap kantor atau perusahaan dilengkapi dengan fasilitas olahraga.''
Menurut Lesmana, Indonesia perlu mencontoh pemerintah Singapura. Mereka mencegah kegemukan sejak dini. Di sekolah-sekolah, anak-anak yang gemuk mendapat perhatian khusus. Orangtua mereka akan dipanggil untuk diberi pemahaman agar berupaya mengatasi kegemukan anak-anak.
"Sebab, obesitas memang menimbulkan banyak gangguan kesehatan," pungkas Lesmana. (*/H-3)