Headline
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Kumpulan Berita DPR RI
Para negosiator pembicaraan iklim harus bertindak berani untuk menyelamatkan umat manusia.
PERKEMBANGAN sidang di tingkat negosiator dalam Konferensi Tingkat Tinggi Perubahan Iklim (Conference of Parties/COP) ke-21 United Nations Framework on Climate Change (UNFCCC/Konvensi Kerangka Kerja Perubahan Iklim PBB) di Paris, Prancis, hingga kemarin sore belum menggembirakan. Masih terjadi perbedaan pandangan antara negara maju dan berkembang dalam mengatasi perubahan iklim.
Utusan Khusus Presiden bidang Perubahan Iklim Rachmat Witoelar membenarkan bahwa perkembangan dari hari ke hari sangat menyedihkan dan dikhawatirkan bisa menemui jalan buntu.
Padahal, sebelumnya, ia optimistis melihat banyak negara yang mulai satu visi setelah para kepala negara menyampaikan pandangan dalam Leaders Event pada pembukaan COP 21 UNFCCC, 30 Oktober lalu.
"Sampai sekarang para negosiator masih memikirkan untung rugi. Padahal, musuh bersama masyarakat dunia itu perubahan iklim. Jadi semua masih dalam tataran business as usual," terang Rachmat.
Seluruh hasil rapat, selesai tidak selesai, harus ditutup dan hasilnya dibawa ke sidang tingkat menteri.
"Mau tidak mau semua pembahasan yang kecil-kecil ini, mulai mitigasi, adaptasi, transfer teknologi, dan sebagainya dibawa ke tingkat menteri. Akibatnya, format perundingan akan berubah. Nantinya perundingan di tingkat menteri hanya deal making saja," kata Rachmat.
Hasil kesepakatan di tingkat menteri pun bukan lagi suara kesepakatan bersama, melainkan dipenuhi dengan deal-deal, yang intinya mengkhianati pesan dari penyelamatan lingkungan secara global. Sebelumnya, sejumlah negosiator delegasi Indonesia mengungkapkan adanya perubahan yang signifikan terutama dalam pasal-pasal.
Direktur Mitigasi Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Emma Rachmawati yang juga negosiator di bidang mitigasi menyebutkan ada perubahan kalimat dalam artikel mitigasi terutama untuk dukungan pendanaan dari negara maju.
"Saat ini, pasal yang mencantumkan kata support pendanaan pindah ke pasal lain. Pemindahan itu tidak dijelaskan kegunaannya," jelas Emma.
Direktur Adaptasi Perubahan Iklim KLHK Sri Tantri Arundhati mengungkapkan, dalam tiga opsi yang dibahas pada artikel adaptasi, masalah pendanaan tidak ada.
Sama halnya bidang transfer teknologi dan pembangunan kapasitas juga mempersoalkan masalah pendanaan dari negara maju ke negara berkembang yang tidak ada.
Harus berani
Sementara itu, aktor Hollywood Leonardo DiCaprio memperingatkan bahwa dunia semakin kehabisan waktu dalam mengatasi permasalahan iklim.
Karena itu, di tengah situasi yang semakin kritis ini, DiCaprio menantang para negosiator pembicaraan iklim agar bertindak berani untuk menyelamatkan umat manusia dari bencana pemanasan global.
Bersama pemenang Oscar, Robert Redford, pemerhati lingkungan itu berusaha menyuntikkan urgensi dalam upaya untuk mencapai kesepakatan mengurangi emisi gas rumah kaca, faktor yang mengancam sistem iklim bumi.
"Tolong jangan biarkan rasa takut dan ragu membuat Anda lambat bertindak. Jadilah orang tegas, berani, lakukan segalanya dengan kekuasaan Anda untuk mengubah masalah kita saat ini," tegas DiCaprio dalam pertemuan puncak para pemimpin lokal di Paris.
Redford, yang juga pegiat lingkungan, dalam pertemuan itu mengatakan, "Masalah yang kita hadapi ini bahkan lebih mendesak dari sebelumnya." (AFP/Hym/I-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved